KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) saat ini dinilai masih berada dalam tren
bearish yang cukup kuat. Hingga perdagangan Kamis (30/4/2026) pukul 16:05 WIB, IHSG melemah 2,03% ke posisi 6.956,80. Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai peluang IHSG untuk melanjutkan penurunan masih cukup besar. Secara teknikal, upaya
rebound belum mampu menembus
resistance MA5, yang mengindikasikan tren turun masih dominan. Memasuki Mei 2026, William melihat IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan.
Oleh karena itu, William menyarankan investor untuk mengantisipasi skenario terburuk, di mana indeks berisiko semakin menjauh dari level psikologis 7.000, seiring tekanan yang masih berlanjut pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Baca Juga: IHSG Ambruk 2,03% ke 6.956, Top Losers LQ45:DSSA, BRPT dan MAPI, Kamis (30/4) "Sentimen pendorong mungkin datang dari
earning season namun efeknya tidak signifikan," kata William kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk bersikap
wait and see. Meski begitu, saham-saham berbasis
crude palm oil (CPO) seperti TAPG, DSNG, dan STAA dinilai menarik untuk dicermati dengan strategi
buy on weakness. Sementara itu, Head Investment Specialist Bahana Sekuritas, Chisty Maryani melihat IHSG masih bergerak dalam fase
bearish yang kuat, dengan
area support terdekat di level 6.800. Dari perspektif teknikal, potensi penguatan baru akan muncul apabila indeks berhasil menembus level 7.300 sebagai resistance kunci. "Saya melihatnya IHSG masih lebih cenderung ke arah tertekan dibanding
reversal," kata Chisty kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). Untuk periode Mei 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam kecenderungan melemah dengan rentang
support di level 6.800 dan
resistance kuat di 7.300. Level 6.800 dinilai sebagai area penopang sekaligus peluang akumulasi.
Baca Juga: Arah IHSG Dinilai Masih Bearish, Investor Perlu Cermati Sentimen Ini Sementara itu, kisaran 7.100–7.200 menjadi resistance awal yang perlu diperhatikan. "Secara fundamental, outlook 2026 masih positif. Diliat dari beberapa indikator, yakni inflasi dalam negeri yang masih stabil, dan selama pergerakan stabilisasi nilai mata uang rupiah kita masih cukup kuat," tambahnya. Dari sisi risiko, tekanan terhadap IHSG masih didominasi oleh faktor eksternal. Beberapa di antaranya adalah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda, yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global.
Selain itu, International Monetary Fund (IMF) juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026.
Baca Juga: IHSG Ambruk ke 6.926 di Sesi I Kamis (30/4), Ada Peluang Rebound di Sesi II? Risiko lain datang dari potensi
net sell investor asing di pasar
emerging market seperti Indonesia, seiring tingginya permintaan terhadap dolar AS yang tercermin dari penguatan indeks dolar (DXY), serta volatilitas harga energi dan komoditas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News