Anomali Global! Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Naik Tinggi di Tengah Krisis Dunia



KONTAN.CO.ID - Jakarta. 

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin kuat pada tahun 2026 ini meskipun kondisi global yang masih tidak menentu. Sependapat, Great Institue menilai perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan yang relatif solid dan maju. Namun, pemerataan perekonomian harus menjadi fokus pemerintah mendatang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Dengan kebijakan fiskal dan moneter yang semakin sinkron, Purbaya yakin perekonomian Indonesia mampu tumbuh lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.


"Yang penting adalah ke depan dengan kebijakan yang semakin sinkron antara kami dengan Bank Sentral, ekonomi kita akan tumbuh lebih baik dari sekarang," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Purbaya menyebutkan, target pertumbuhan ekonomi pada 2026 sebesar 6% bukanlah sesuatu yang sulit dicapai. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2% secara tahunan, dengan capaian kuartal keempat masih berada di atas 5,5%.

Baca Juga: Bonus Ganda Rizki Juniansyah: Medali Emas dan Gaji Kapten TNI Terbaru

Menurut Purbaya, salah satu kunci utama pendorong pertumbuhan adalah percepatan belanja fiskal yang sudah mulai dilakukan sejak awal tahun. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Bank Indonesia (BI) melalui komunikasi yang lebih intensif dan efektif.

Dalam mendukung iklim usaha, pemerintah juga mulai menggelar sidang debottlecking yang berfungsi sebagai forum untuk mengidentifikasi langsung berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha.

Meski baru berjalan satu kali, Purbaya mengaku sudah memperoleh gambaran persoalan utama yang dihadapi dunia bisnis. Ia menambahkan, langkah-langkah tersebut mulai mendapat respons positif dari investor, termasuk investor asing.

Sejumlah pelaku usaha dari luar negeri, seperti Singapura dan negara lainnya, disebut telah menyampaikan minat dan bahkan mulai merealisasikan investasi di Indonesia. "Jadi itu saja sudah cukup untuk tumbuh 6% atau lebih," kata Purbaya.

Tonton: 1.500 Calon PPIH 2026 Jalani Diklat Ala Militer, Ini Persiapan Besar Layanan Haji 1447 H

Indonesia anomali global

Kajian Economic Outlook 2026 Great Institute menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 ini bisa meningkat lebih tinggi. Kinerja perekonomian yang tumbuh di atas 5% pada tahun 2025 bisa menjadi modal bagus untuk tahun 2026 ini.

Direktur Eksekutif Great Institute, Dr. Sudarto, menyebut ekonomi Indonesia dapat dikategorikan sebagai anomali positif di tengah turbulensi global yang masih berlangsung. Menurutnya, saat banyak negara menghadapi tekanan serius, Indonesia justru mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang sehat di kisaran 5 persen.

“Ekonomi Indonesia boleh dibilang anomali. Di saat perekonomian dunia masih berada dalam turbulensi dan ketidakpastian, bahkan krisis, Indonesia tetap mampu tumbuh secara konsisten,” ujar Sudarto dalam konferensi pers Sabtu 10 Januari 2025.

Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas arah kebijakan di tengah gejolak global. “Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, kepemimpinan nasional menjadi faktor kunci. Presiden Prabowo berperan sebagai nakhoda yang mampu menjaga arah, stabilitas, dan kesinambungan kebijakan, sehingga ekonomi nasional tidak terombang-ambing dan justru tetap melangkah maju,” kata Sudarto.

Ia menambahkan, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta fokus pada penguatan ekonomi rakyat menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia dalam satu tahun terakhir.

Baca Juga: Waspada! Ini Daftar Produk Susu Formula Nestle yang Ditarik Karena Kontaminasi

Dari sisi kebijakan, optimisme Great Institute terhadap prospek ekonomi nasional juga ditopang oleh mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah yang memberikan dampak nyata. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga awal 2026 telah menjangkau sekitar 53,4 juta penerima manfaat.

Program MBG dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan turut didorong melalui Koperasi Desa Merah Putih. Pada 2026, jumlah koperasi ini ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit di berbagai daerah.

“Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Kontribusinya bukan hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional,” ujar Sudarto.

Ia menegaskan, penguatan ekonomi desa, perlindungan sosial, serta keberlanjutan program prioritas merupakan bagian dari strategi pemerataan pembangunan yang lebih luas. Great Institute optimistis pemerataan ekonomi akan semakin nyata seiring konsistensi implementasi kebijakan pemerintah.

Memasuki 2026, Great Institute menilai dunia masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok global, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju membuat pelaku usaha cenderung bersikap wait and see.

Namun demikian, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu titik terang stabilitas ekonomi di tengah badai global. Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen dengan inflasi yang relatif terkendali.

Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski begitu, Great Institute mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons.

Peneliti Desk Ekonomi Great Institute, Adrian Nalendra, menilai stabilitas konsumsi agregat saat ini cenderung menutupi persoalan struktural kelas menengah. Basis konsumen kelas menengah disebut menyusut, sementara kelompok rentan justru membesar.

Sementara itu, peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menekankan pentingnya kepastian eksekusi kebijakan untuk mendorong investasi. Menurutnya, investasi sangat sensitif terhadap kepastian implementasi kebijakan di tengah ketidakpastian global.

Peneliti lainnya, Yossie Martino, menyebut 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia. Stabilitas makro yang terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.

Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3 hingga 5,6 persen. Proyeksi ini mencerminkan optimisme yang terukur, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter tetap terjaga serta program prioritas berjalan efektif.

Menutup konferensi pers, Sudarto menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap pasif. “Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus terus melangkah maju dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat,” pungkasnya.

.

Baca Juga: Defisit APBN 2025 Diprediksi Lampaui 2,78% dari PDB, Tapi Tak Sampai 3%  

Anomali Data OJK 29 Perusahaan Asuransi Belum Aman Modal 2026
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Punya Properti di Banyak Daerah, Ini Harta Pejabat Pajak Dwi Budi Tersangka Suap

Menarik Dibaca: 12 Kebiasaan di Malam Hari yang Bikin Susah Kurus, Apa Saja?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News