KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia berbalik melemah pada perdagangan Kamis (6/3) setelah sebelumnya sempat menguat. Penurunan ini terjadi seiring kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Data yang dihimpun
Reuters menunjukkan, harga emas spot tercatat turun 1,2% menjadi US$5.076,59 per ons pada pukul 13.32 waktu New York (01.32 ET). Sebelumnya, logam mulia ini sempat naik hingga US$ 5.194,59 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga ditutup melemah 1,1% di level US$5.078,70 per ons.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, mengatakan pasar saat ini mencermati kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi AS biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas. "Pasar melihat kenaikan harga minyak dan potensi inflasi, sementara imbal hasil obligasi yang lebih tinggi biasanya tidak menguntungkan bagi emas," ujar Melek. Ketegangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pasar. Kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari keenam pada Kamis. Warga melaporkan meningkatnya serangan, sementara Teheran bersumpah akan melakukan pembalasan setelah serangan AS terhadap sebuah kapal yang berada jauh dari zona konflik utama.
Baca Juga: Dolar Melemah, Emas Menguat Tak Terduga: Ada Apa di Balik Kenaikan Ini? Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Kondisi ini mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi, sekaligus mengurangi harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga. Secara umum, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang. Namun, kinerjanya biasanya lebih kuat ketika suku bunga berada pada tren penurunan. Sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 5.594,82 per ons pada 29 Januari. Pada awal pekan ini, harga emas juga sempat menembus level US$ 5.400 setelah dimulainya kampanye udara AS dan Israel yang memicu lonjakan permintaan aset safe haven. Namun setelah itu harga kembali terkoreksi karena penguatan dolar AS yang juga menjadi aset pelarian investor saat ketidakpastian meningkat. Indeks dolar AS tercatat naik sekitar 0,5%, membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tiga pekan, sehingga meningkatkan opportunity cost untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Meski demikian, Melek menilai fundamental emas masih cukup kuat. Hal ini terutama karena potensi peningkatan defisit anggaran AS serta tingginya ketidakpastian global.
Tonton: Potensi Meningkatnya Jumlah PHK di Industri Kretek Terdampak Aturan Baru Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan klaim pengangguran awal pada pekan lalu tidak berubah, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) turun tajam pada Februari.
Bank sentral AS atau Federal Reserve juga menyampaikan bahwa aktivitas ekonomi meningkat tipis dalam beberapa pekan terakhir, sementara harga masih mengalami kenaikan dan kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil. Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat kebijakan 18 Maret mendatang. Investor juga menantikan laporan ketenagakerjaan AS bulan Februari yang akan dirilis pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,8% menjadi US$ 81,91 per ons. Sementara itu, platinum melemah 1,1% ke level US$ 2.125,10 dan palladium turun 2,4% menjadi US$ 1.634,15 per ons. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News