Anomali Indonesia: Ekonomi Tumbuh Tinggi, Jumlah Kelas Menengah Berkurang, Ada Apa?



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada awal 2026. Namun jumlah kelas menengah di Indonesia malah berkurang.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,6% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadi capaian kuartalan tertinggi sejak kuartal II-2021.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, percepatan belanja pemerintah, serta peningkatan investasi.


Namun di balik pertumbuhan ekonomi yang solid, Bank Dunia menyoroti tantangan struktural yang dinilai lebih mendasar, yakni kualitas lapangan kerja yang belum membaik dan terus menyusutnya kelompok kelas menengah Indonesia.

Baca Juga: Ketua Komisi XII DPR Soroti Pengelolaan Harga Energi di Tengah Dinamika Global

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Ditopang Konsumsi dan Investasi

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026, Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia memasuki tahun 2026 dengan momentum yang cukup kuat.

Beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi antara lain:

- Konsumsi rumah tangga yang tetap solid - Belanja pemerintah yang meningkat - Investasi yang tumbuh lebih tinggi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) - Penyaluran tunjangan hari raya (THR) ASN - Momentum Ramadhan dan Idul Fitri

Investasi tercatat tumbuh 6%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,1% pada 2025.

Peningkatan investasi didorong oleh:

- Pelonggaran kebijakan moneter - Program hilirisasi industri - Berbagai proyek prioritas pemerintah

Di sisi sektoral, jasa menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi.

Sektor perdagangan, transportasi, perhotelan, keuangan, dan teknologi informasi menyumbang sekitar 57% pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.

Sementara sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja positif, terutama industri logam dan elektronik yang masing-masing tumbuh 10,3% dan 7%.

Tonton: IHSG Bangkit! Tembus 6.000 Lagi, Asing Mulai Borong BBCA hingga TPIA

Bank Dunia: Lapangan Kerja Bertambah, Tapi Belum Berkualitas

Meski pertumbuhan ekonomi menguat, Bank Dunia menilai kualitas penciptaan lapangan kerja masih menjadi persoalan besar.

Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia memang berhasil menciptakan pekerjaan baru, tetapi belum cukup menghasilkan pekerjaan produktif dengan upah yang mampu mendorong mobilitas sosial masyarakat.

"Ekonomi menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak cukup pekerjaan produktif dan bergaji tinggi yang dibutuhkan untuk mempertahankan mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah," tulis Bank Dunia.

Data menunjukkan jumlah pekerja bertambah sekitar 1,9 juta orang antara Agustus 2024 hingga Agustus 2025.

Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,9%.

Namun hampir separuh lapangan kerja baru justru terserap di sektor dengan produktivitas relatif rendah, seperti:

- Pertanian - Akomodasi - Makanan dan minuman

Sebaliknya, sektor yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, seperti jasa keuangan, mengalami stagnasi bahkan penurunan.

Tonton: Harga Emas Dunia Tertekan, Catat Pekan Terburuk dalam Beberapa Waktu Terakhir

Fenomena Setengah Menganggur Masih Tinggi

Bank Dunia juga menyoroti meningkatnya angka underemployment atau setengah menganggur.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki pekerjaan tetapi jam kerja atau pendapatannya belum memenuhi kebutuhan yang diinginkan.

Pada 2025, tingkat underemployment tercatat mencapai 32,7% dan terus meningkat sejak 2022.

Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki pekerjaan tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan.

Banyak pekerja masih menghadapi keterbatasan pendapatan dan minim peluang untuk meningkatkan taraf hidup.

Upah Riil Pekerja Terampil Justru Menurun

Masalah lain yang menjadi perhatian adalah penurunan upah riil pada kelompok pekerja berpendidikan menengah dan tinggi.

Sejak 2018, upah riil pekerja berketerampilan menengah hingga tinggi turun sekitar 1%-2% per tahun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi belum otomatis menghasilkan pendapatan yang lebih baik.

Sebagian tenaga kerja terdidik justru masuk ke sektor informal atau pekerjaan dengan produktivitas lebih rendah.

Kelas Menengah Indonesia Menyusut Hampir Separuh

Dampak paling nyata terlihat pada perubahan struktur pendapatan masyarakat.

Bank Dunia mencatat proporsi pekerja yang memperoleh penghasilan setara kelas menengah turun drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2018, porsi pekerja dengan pendapatan kelas menengah mencapai 14,5%.

Namun pada 2025, angkanya turun menjadi sedikit di atas 7%.

Artinya, jumlah pekerja yang menikmati standar hidup kelas menengah menyusut hampir separuh hanya dalam tujuh tahun.

Temuan ini menjadi perhatian karena kelas menengah selama ini berperan sebagai:

- Motor konsumsi domestik - Penopang pertumbuhan ekonomi - Pendorong investasi rumah tangga - Basis penerimaan pajak negara

Bank Dunia: Pertumbuhan Tinggi Belum Cukup

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran:

- 5,0% pada 2026 - 5,2% pada 2027 - 5,2% pada 2028

Meski prospeknya masih positif, Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa reformasi yang mampu meningkatkan produktivitas.

Menurut lembaga tersebut, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi lebih banyak didorong oleh sisi permintaan, seperti stimulus fiskal dan belanja pemerintah.

Tanpa reformasi struktural, dorongan tersebut hanya berpotensi memberikan efek sementara.

Tonton: Klaim Menteri Dikdasmen, Lebih dari 43 Juta Siswa Minta MBG Jalan Terus

Reformasi yang Dinilai Penting

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects Juni 2026, Bank Dunia menyoroti tiga area reformasi utama yang perlu dipercepat:

- Reformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) - Penguatan pengelolaan investasi publik (public investment management) - Reformasi sektor logistik

Ketiga reformasi tersebut dinilai dapat meningkatkan produktivitas, memperluas ruang fiskal, memperkuat daya saing, dan mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas.

Baca Juga: Defisit Anggaran Tinggi, Ruang Fiskal Pemerintah Makin Terbatas

Tantangan Besar Ekonomi Indonesia

Bank Dunia menegaskan tantangan Indonesia saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi.

Yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan pekerjaan yang produktif, berupah layak, dan membuka peluang mobilitas ekonomi yang lebih luas.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB, tetapi juga dari kemampuan pertumbuhan tersebut memperluas kelas menengah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/06/13/171800326/bank-dunia-ungkap-penyebab-kelas-menengah-indonesia-terus-menyusut?page=all#page2.  

SpaceX Kantongi Rp 1.200 Triliun dari IPO! Bisa Tambah Rp 180 Triliun Lagi Lewat Skema Greenshoe
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News