Anomali Politik: Bupati Pati yang Kebal Kini Tak Berdaya di Tangan KPK
Selasa, 20 Januari 2026 07:58 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menangkap Bupati Pati Sudewo dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 19 Januari 2026. Inilah episode dramatis politik Indonesia, setelah sebelumnya sang bupati yang politikus Partai Gerindra tersebut selalu selamat dari berbagai upaya pelengseran. Penangkapan ini sekaligus menandai berakhirnya penantian panjang publik, khususnya warga Pati, yang sejak lama meminta aparat penegak hukum bertindak. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan bahwa Sudewo menjadi salah satu pihak yang diamankan dalam OTT KPK di Pati. “Benar, salah satu pihak yang diamankan dalam peristiwa tertangkap tangan di Pati adalah Saudara SDW,” kata Budi saat dikonfirmasi, Senin (19/1/2026).
Hingga saat ini, KPK belum mengungkap secara rinci perkara yang menjerat Bupati Pati Sudewo, sebuah kebiasaan lembaga antirasuah yang kerap memilih bekerja senyap sebelum berbicara gamblang. Publik pun kembali diminta bersabar, meski kali ini kesabarannya telah terlatih bertahun-tahun. Baca Juga: Tahun 2026, BGN Targetkan Bangun 33.000 Dapur MBG Pernah Didemo Warga, Kini Ditangkap KPK Penangkapan Sudewo bukan peristiwa yang datang tiba-tiba. Jauh sebelum OTT ini dilakukan, ratusan warga Pati, Jawa Tengah, pernah menggeruduk gedung KPK pada 1 September 2025. Mereka datang menggunakan tujuh bus, menggelar aksi damai, dan menyampaikan tuntutan yang sederhana namun tegas: Sudewo harus ditangkap. “Tangkap Sudewo! Tangkap Sudewo!” teriak massa kala itu, sebuah seruan yang pada akhirnya terbukti bukan sekadar slogan jalanan, melainkan arsip aspirasi publik yang kini menemukan momennya. Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Supriyono, menyebut salah satu hasil audiensi warga dengan KPK adalah janji koordinasi internal untuk menerbitkan surat rekomendasi penonaktifan Sudewo dari jabatannya. Surat tersebut rencananya akan disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri dan Presiden. Selebihnya, warga diminta menunggu. Dan kini, penantian itu berujung pada OTT. Tonton: Survei BI: Kinerja Dunia Usaha Melanjutkan Tren Perlambatan pada Kuartal IV-2025 Sudewo Sudah Dua Kali Diperiksa KPK Sebelum ditangkap dalam OTT, Sudewo telah dua kali diperiksa KPK sebagai saksi. Pemeriksaan pertama dilakukan pada 27 Agustus 2025, terkait kasus dugaan suap pembangunan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. “Saya dipanggil sebagai saksi dan semua pertanyaan saya jawab sejujurnya,” ujar Sudewo kala itu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Pemeriksaan kedua menyusul pada 22 September 2025, masih dalam perkara yang sama. Seusai pemeriksaan, Sudewo memilih bungkam, sebuah sikap yang kini terasa konsisten hingga OTT terjadi. Baca Juga: Dua Kepala Daerah Terjerat OTT Sehari: Kemendagri Prihatin OTT KPK dan Pesan yang Terbaca Dengan tertangkapnya Bupati Pati Sudewo dalam OTT KPK, publik kembali diingatkan bahwa laporan masyarakat bukan sekadar formalitas administrasi. Meski membutuhkan waktu, tuntutan warga pada akhirnya tetap tercatat — dan sesekali, benar-benar ditindaklanjuti. OTT ini sekaligus menjadi pengingat serius bahwa jabatan publik tidak pernah benar-benar kebal, bahkan ketika suara warga sempat dianggap terlalu keras, terlalu dini, atau terlalu berisik. Kini, proses hukum berjalan. Sementara itu, warga Pati dapat mencatat satu hal: dalam kasus ini, teriakan mereka ternyata tidak menguap begitu saja. Tonton: Elon Musk Semakin Tajir, Kekayaannya Tembus Rp 13.000 Triliun Profil Sudewo Sudewo merupakan politikus kelahiran Pati, Jawa Tengah, pada 11 Oktober 1968. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Slungkep, melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kayen, dan menamatkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Pati. Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan mengambil program studi Teknik Sipil dan lulus pada 1993. Setelah itu, Sudewo melanjutkan pendidikan magister di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan meraih gelar S2 Teknik Pembangunan. Usai menyelesaikan studi, Sudewo mengawali karier profesionalnya di sektor konstruksi sebagai pegawai PT Jaya Construction pada periode 1993–1994. Tak lama kemudian, ia beralih ke jalur pemerintahan dengan menjadi tenaga honorer di Departemen Pekerjaan Umum (PU) Kantor Wilayah Bali pada 1994–1995. Karier politik Sudewo mulai terbentuk pada awal 2000-an. Pada 2002, ia sempat mencalonkan diri sebagai Bupati Karanganyar berpasangan dengan Juliyatmono, namun belum berhasil memenangkan kontestasi. Setelah itu, aktivitas politiknya semakin intens. Ia tercatat pernah menjadi koordinator tim sukses Pilkada Jawa Timur pada 2005 serta koordinator tim sukses Pemilihan Gubernur Jawa Tengah pada 2008. Pada 2019, Sudewo dipercaya menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Organisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra. Kiprah politiknya semakin menguat saat ia terpilih sebagai anggota DPR RI selama dua periode, yakni 2009–2013 dan 2019–2024.
Puncak karier politiknya terjadi pada Pemilu 2024, ketika Sudewo terpilih sebagai Bupati Pati untuk periode 2025–2030, didampingi Wakil Bupati Risma Ardhi Chandra.
Rel Terendam Banjir, Refund Tiket KAI Mencapai Rp 3,5 Miliar