Antam akan tuntaskan smelter Mempawah



JAKARTA. PT Antam Tbk (ANTM) memastikan terus melanjutkan proyek kerjasama pembangunan pabrik smelter grade alumina (SGA) di Mempawah, Pontianak. Pabrik hasil patungan dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ini bakal beroperasi semester I-2016.

Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hartono menyatakan, pembangunan smelter alumina merupakan mandat dari pemerintah. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan nilai tambah dari bauksit mentah yang selama diproduksi Antam. 

Sebelumnya, KONTAN mendapatkan informasi dari Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Bijih Besi Indonesia (APB3I) bahwa proyek SGA milik Antam terancam batal. Namun Antam menepis kabar tersebut. "Proyek ini tak mungkin kami batalkan. Produksi bauksit kami sekarang untuk mengumpan pabrik chemical grade alumina (CGA) yang sudah lebih dulu beroperasi," kata Tri ke KONTAN, Minggu (4/10).


Saat ini Antam dan Inalum masih berupaya menggandeng beberapa perusahaan lain untuk bergabung dalam proyek pembangunan SGA tersebut. Sebab, skema yang direncanakan, pabrik ini akan dikelola oleh perusahaan patungan.

 Kongsi Antam dan Inalum akan menguasai lebih dari 50% porsi kepemilikan saham, sementara sisanya pihak ketiga. "Kami butuh pihak ketiga untuk melengkapi kepemilikan saham itu," ujar Tri.

Sayang, Tri enggan menyebut identitas sejumlah perusahaan yang sedang didekati. Tri memastikan, berbagai perusahaan yang tengah dijajaki berasal dari luar negeri.

Sebab di dalam negeri, tidak ada perusahaan lain selain Inalum yang memiliki teknologi dan pengalaman dalam pembangunan smelter itu. "Yang pasti selain memiliki teknologi dan pengamanan, perusahaan tersebut harus mumpuni dari segi pendanaan, serta memiliki jaringan memadai untuk melakukan penyerapan pembelian produk alumina yang nanti akan hasilkan," jelas Tri.

Pabrik SGA yang bakal dibangun Antam dan Inalum ini memiliki kapasitas 1,7 juta ton hingga 2 juta ton per tahun. Investasi yang diperlukan untuk pembangunan smelter  US$ 1,8 miliar.

Walau demikian, budget investasi ini harga mati. "Jika pihak ketiga sudah ditemukan, bisa saja kami merumuskan efisiensi yang tepat dalam pembangunan smelter sehingga biaya investasi bisa ditekan," tambah Tri.

Adapun Inalum saat ini merupakan satu-satunya produsen aluminium sekaligus pembeli produk olahan alumina di Indonesia. Inalum membutuhkan sekitar 600.000 ton alumina per tahun.

Dus, produksi smelter ini masih memiliki kelebihan 1,1 juta ton-1,4 juta ton setelah 600.000 ton dibeli Inalum. "Kelebihan inilah yang akan diekspor melalui jaringan pihak ketiga," imbuhnya.

Penjualan emas moncer

Selain menuntaskan proyek SGA, ANTM juga terus menggosok bisnis emas yang sedang kinclong. Tri mengaku lupa data persis penjualan emas Antam hingga September 2015. "Tapi kurang lebih sudah sekitar 10 ton. Ini sudah berhasil melebihi target penjualan emas kami tahun ini yang sebenarnya hanya 9 ton," kata Tri.

Menurut Tri, tahun lalu penjualan emas Antam mencapai 10 ton. Tahun ini, Tri mengungkapkan bukan tak mungkin penjualan emas bisa mencapai kisaran 12 ton. "Karena sejak awal kami memang berniat menggenjot penjualan emas,"  jelas Tri. Manajemen Antam ingin merespon minat  masyarakat yang gemar berinvestasi emas pada saat kurs dollar tengah menguat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri