Antam (ANTM) Kebut Hilirisasi Nikel, Siapkan Proyek US$ 3,3 Miliar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam terus memperkuat hilirisasi nikel melalui pengembangan sejumlah proyek terintegrasi untuk mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik (EV battery).

ANTM saat ini mengembangkan dua proyek utama di Buli, Halmahera Timur, yakni proyek high pressure acid leach (HPAL) dan rotary kiln electric furnace (RKEF). Total nilai investasi kedua proyek tersebut mencapai sekitar US$ 3,3 miliar.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira bilang, hilirisasi nikel menjadi salah satu fokus pertumbuhan perusahaan. Untuk itu, ANTM berupaya mengembangkan rantai nilai nikel dari hulu hingga hilir.


Baca Juga: El Nino Ganggu Jalur Sungai untuk Distribusi BBM, Ini Strategi Pertamina

“Kami berupaya menjalankan mandat pemerintah untuk memperkuat hilirisasi nikel melalui pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dengan rantai nilai mulai dari upstream sampai downstream,” katanya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026). 

Salah satu proyek utama adalah HPAL di Buli, Halmahera Timur yang dikembangkan bersama konsorsium CBL. ANTM memiliki porsi kepemilikan sebesar 30% dalam proyek tersebut dengan kapasitas produksi sekitar 55.000–60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Nilai investasi proyek HPAL tersebut diperkirakan mencapai US$ 1,9 miliar. Saat ini, proyek telah memasuki tahap persetujuan final investment decision (FID), yang menjadi salah satu tahapan penting sebelum pengembangan proyek berlanjut.

Selain HPAL, ANTM mengembangkan proyek RKEF di Buli dengan kepemilikan sebesar 40%. Proyek tersebut mencakup delapan lini RKEF dan kawasan industri dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.

Nilai investasi proyek RKEF diperkirakan mencapai US$ 1,4 miliar dengan periode pengembangan hingga 2027. Saat ini, proyek tersebut masih berada dalam tahap pra-IPC dan pra-pembiayaan sebelum memasuki konstruksi penuh.

 
ANTM Chart by TradingView

Arini bilang, pengembangan proyek dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknis, struktur pendanaan, perizinan, serta keekonomian proyek. Evaluasi juga dilakukan mengikuti perubahan kondisi pasar.

“Realisasi setiap investasi di proyek pengembangan kami lakukan secara bertahap, sesuai dengan kesiapan proyek, perizinan, struktur pendanaan, keekonomian, IRR, NPV, dan total return yang diberikan kepada Antam,” tuturnya. 

ANTM juga mengembangkan proyek hilirisasi nikel lainnya melalui PT Nusa Karya Arindo (NKA) bersama konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt. Adapun proyek tersebut saat ini masih berada dalam tahap studi kelayakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News