Antara Fed Rate dan window dressing



JAKARTA. Periode harap-harap cemas kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) alias fed rate sudah berakhir. Pasar menyambut baik keputusan Bank Sentral AS, Federal Reserve mengakhiri ketidakpastian soal suku bunga.

Sesuai prediksi pasar, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Sentimen itu membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,6% pada perdagangan Kamis (17/12), ke level 4.555,96.

Investor asing mencetak pembelian bersih (net buy) di pasar saham hingga Rp 1,14 triliun.


Oktavianus Marbun, Analis Waterfront Securities, mengatakan, periode positif ini akan bertahan sampai tutup tahun ini. Sentimen The Fed diduga berbarengan dengan aksi windows dressing manajer investasi.

Tapi, investor akan tetap mencermati kondisi pasar beberapa hari ke depan. Terutama dampak kenaikan suku bunga ini terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Riset Koneksi Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, pasar sudah mengantisipasi keputusan The Fed sejak jauh-jauh hari.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga masih terlihat stabil pascakenaikan fed rate. Hal ini menghembuskan hawa positif, rupiah masih berpeluang menguat. "Penguatan rupiah tidak secepat penguatan IHSG karena pelaku pasar masih mencermati neraca perdagangan kita," ujar Alfred.

Menurut dia, sampai akhir Desember bahkan awal tahun depan, IHSG masih bisa bergerak di zona hijau. Apalagi masa aktivitas trading di bulan ini sudah tak banyak lagi menjelang libur natal dan tahun baru.

Oktavianus memperkirakan, saat ini adalah masa trading buy untuk para trader. Yang menarik adalah saham-saham blue chips seperti ASII, TLKM, BBCA, BMRI. Selain itu, ia juga merekomendasikan saham-saham konstruksi seperti ADHI, WIKA, dan PTPP.

Menurut Oktavianus, IHSG masih bisa mencapai level 4.600 sampai 4.650 di akhir tahun. Alfred menambahkan, IHSG bisa ditutup di level 4.700 pada akhir Desember.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2% dan inflasi 4% plus minus 1% tahun depan, IHSG bisa tumbuh antara 15%-18% ke level 5.400-5,500. Memang masih ada potensi kenaikan lagi suku bunga The Fed. Tapi, investor sudah memperhitungkan hal itu.

Taye Shim, Kepala Riset KDB Daewoo Securities Indonesia, memprediksi, pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan masing-masing 4,8% dan 5%. Meski masa terburuk telah berlalu, masih terlalu dini mengharapkan perubahan besar ekonomi domestik.

Ia memperkirakan, rata-rata kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang 2016 akan menjadi Rp 14.500 per dollar. Target IHSG tahun depan adalah 4.120 untuk bear case, 4.809 untuk base case, dan 5.498 untuk bull case. Target IHSG bear case itu berdasarkan asumsi aksi jual asing masih kuat.

Dengan asumsi masa terburuk telah lewat, IHSG diperkirakan mencapai valuasi rata-rata historis 5.489, dengan PBV 2,7 kali. Ia menyarankan, investor memperhatikan sektor dengan siklus makro, seperti bank, properti, dan industri dasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News