KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terbilang masih tinggi menjadi tantangan bagi industri penjaminan. Oleh karena itu, Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) menyampaikan perusahaan penjaminan perlu menerapkan sejumlah upaya antisipasi agar kondisi tersebut tak mempengaruhi kinerja industri pada 2026. Sekretaris Jenderal Asippindo Agus Supriadi mengatakan perusahaan penjaminan perlu melakukan penguatan manajemen risiko dan underwriting, di antaranya melalui pengetatan seleksi penjaminan pada sektor dan segmen UMKM berisiko tinggi, serta penyesuaian skema penjaminan berdasarkan profil risiko debitur. Selain itu, Agus mengungkapkan industri perlu melakukan peningkatan monitoring dan early warning system dengan memperkuat pemantauan portofolio penjaminan secara berkala.
Antisipasi Kenaikan NPL UMKM, Asippindo: Industri Penjaminan Perlu Terapkan Upaya Ini
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terbilang masih tinggi menjadi tantangan bagi industri penjaminan. Oleh karena itu, Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) menyampaikan perusahaan penjaminan perlu menerapkan sejumlah upaya antisipasi agar kondisi tersebut tak mempengaruhi kinerja industri pada 2026. Sekretaris Jenderal Asippindo Agus Supriadi mengatakan perusahaan penjaminan perlu melakukan penguatan manajemen risiko dan underwriting, di antaranya melalui pengetatan seleksi penjaminan pada sektor dan segmen UMKM berisiko tinggi, serta penyesuaian skema penjaminan berdasarkan profil risiko debitur. Selain itu, Agus mengungkapkan industri perlu melakukan peningkatan monitoring dan early warning system dengan memperkuat pemantauan portofolio penjaminan secara berkala.