Antisipasi kredit, bank getol rilis surat berharga



JAKARTA. Sejumlah bank berencana menerbitkan surat berharga pada tahun depan sebagai sumber pendanaan. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi melonjaknya permintaan kredit pada tahun depan, terutama pembiayaan jangka panjang seperti infrastruktur.

Selain itu, penerbitan obligasi juga untuk mendiversifikasi pendanaan bank yang saat ini masih tergantung dari dana pihak ketiga (DPK).

PT Bank Mandiri Tbk salah satu yang berniat merilis surat berharga. Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan dan Treasuri Bank Mandiri mengatakan, perusahaan berencana menerbitkan lagi negotiable certificate of deposit (NCD) pada 2017. “Tahun ini kami sudah menerbitkan NCD dengan total Rp 1 triliun sampai Rp 2 triliun,” ujar Pahala, Selasa (29/11).


Selain NCD, Bank Mandiri juga akan meneruskan penerbitan obligasi berkelanjutan pada tahun depan senilai Rp 5,5 triliun. Surat utang yang akan diterbitkan tahun depan merupakan bagian dari penerbitan obligasi 2016-2018 senilai total Rp 14 triliun.

Bank pelat merah lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga berencana merilis obligasi tahun depan sebesar Rp 15,4 triliun. Ini bagian dari Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI dengan total target dana Rp 20 triliun.

Sekretaris Perusahaan BRI Hari Siaga mengatakan, penerbitan obligasi ini merupakan upaya untuk melakukan diversifikasi pendanaan. “Intinya BRI akan menjaga sumber pendanaan murah untuk tahun depan, untuk memberikan bunga pinjaman yang lebih kompetitif,” ujarnya, Selasa (29/11).

PT Bank Permata Tbk juga berencana untuk menerbitkan NCD dan obligasi pada tahun depan. “Namun terkait dengan besarnya masih dalam bahas lebih lanjut menyesuaikan dengan kondisi pasar,” ujar Anita Siswadi, Direktur Wholesale Bank Permata kepada KONTAN, Selasa (29/11).

Selain obligasi BTN juga akan menerbitkan sekuritisasi aset sebesar Rp 2 triliun pada tahun depan. Selain itu bank berkode BBTN ini juga mengincar menerbitkan NCD pada tahun depan masih belum merinci berapa jumlah penerbitannya.

Menurut Maryono penerbitan surat berharga ini diharapkan bisa menjaga LFR loan to funding ratio Bank BTN dianga 90%. Selain itu dengan penerbitan obligasi ini bisa meningkatkan diversifikasi pendanaan utamanya untuk kredit jangka panjang seperti infrastruktur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini