ANTM teken US$ 160 juta, ini komentar analis



JAKARTA. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) baru saja meneken perjanjian fasilitas pinjaman dengan Indonesia Eximbank. Nilai fasilitas pinjaman tersebut sebesar US$ 160 juta yang mana sejumlah US$ 100 juta bakal ditarik dalam waktu dekat.

Analis Ciptadana Securities Willim Hadiwijaya bilang, meski cukup besar namun pinjaman tersebut tidak akan membebani keuangan ANTM. Sebab, posisi debt to equity ratio (DER) ANTM masih terbilang rendah, tahun lalu sekitar 0,5 kali.

"Dengan pinjaman baru ini DER -nya akan naik menjadi sekitar 0,6 kali," ujar William kepada KONTAN, (23/5). Ada kenaikan, namun perusahaan pelat merah ini masih memiliki ruang yang cukup besar untuk memanfaatkan leverage-nya. Sebab, batas toleransi yang diberikan kreditur ANTM rata-rata 2,5 kali.


ANTM akan menggunakan pinjaman barunya itu untuk meningkatkan kapasitas pabrik feronikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan proyeknya ditargetkan akan tuntas pada 2015. Pabrik yang semula memiliki kapasitas produksi 18.000-20.000 ton nikel per tahun, jumlahnya akan meningkat menjadi 27.000 ton-30.000 ton nikel per tahun.

Nah, pinjaman tersebut memang digunakan untuk ekspansi dan tidak membebani keuangan perusahaan. Namun, hal ini belum bisa menjadi katalis positif bagi perusahaan.

Sebab, sentimen yang terfokus pada ANTM saat ini adalah soal larangan ekspor bijih nikel yang diberlakukan pemerintah. Menurut Willim, kebijakan ini akan menekan pendapatan ANTM hingga 30% tahun ini.

"Jadi, pinjaman untuk ekspansi ini baru bisa dirasakan setidaknya mulai tahun depan, setelah proyek pabriknya itu selesai," pungkas Willim.

Oleh sebab itu pula, Willim merekomendasikan hold atas saham ANTM dengan target harga Rp 1.080 per saham. Saat ini, harga saham ANTM ada di level Rp 1.245 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Asnil Amri