KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas bongkar muat kapal di sejumlah pelabuhan domestik menjadi sorotan pelaku usaha. Antrean panjang, keterlambatan sandar, hingga lonjakan biaya operasional dinilai semakin menekan kinerja sektor logistik nasional. Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, waktu tunggu kapal meningkat akibat keterbatasan alat bongkar muat. Sejumlah crane yang sudah menua membuat produktivitas turun drastis, dari idealnya 30–40 kontainer per jam menjadi sekitar 10 kontainer per jam. Kondisi serupa terjadi di Pelabuhan Belawan, Medan, yang mengalami pendangkalan alur sehingga menyulitkan kapal berukuran besar untuk bersandar.
Masalah lebih berat dirasakan di wilayah timur Indonesia. Di Merauke, Papua Selatan, kapal dilaporkan mengalami keterlambatan sandar hingga 3–4 hari, dengan total waktu tunggu mencapai 10–15 hari.
Baca Juga: ALI Dorong Insentif Pajak untuk Tekan Biaya Logistik Nasional Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya menegaskan, keterbatasan jumlah dan kemampuan alat bongkar muat memicu antrean di hampir seluruh pelabuhan domestik. Dampaknya, jadwal distribusi terganggu, utilisasi truk menurun, dan omzet perusahaan tertekan, sementara biaya operasional terus meningkat. Ia mendorong pemerintah pusat segera melakukan pemeriksaan dan pemantauan langsung terhadap layanan pelabuhan. “Biaya mahal di pelabuhan ini merugikan semua pihak,” ujarnya, Jumat (6/2/2026), seraya menekankan perlunya perbaikan layanan agar distribusi lebih efisien dan beban konsumen tidak semakin berat. Sementara itu, Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) menilai peningkatan layanan pelabuhan harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama dari sisi infrastruktur dan sumber daya manusia.
Baca Juga: Hambatan Awal Usaha yang Justru Jadi Fulus Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto menyebut sebagian kendala dipengaruhi faktor cuaca ekstrem dan tidak bisa digeneralisir pada semua terminal. “Kesiapan infrastruktur dan SDM sangat menentukan percepatan pelayanan,” kata Carmelita, Rabu (4/2/2026), seraya berharap peningkatan kualitas layanan terus dilakukan. Menanggapi keluhan tersebut, Pelindo menyatakan layanan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak berjalan sesuai perencanaan. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menegaskan tidak ada antrean kapal hingga enam hari seperti yang dikeluhkan sebagian pihak. “Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga enam hari untuk menunggu pelayanan,” ujarnya. Ia menjelaskan setiap kapal telah memiliki jadwal sandar melalui sistem berthing window dan pelayanan diberikan dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, keselamatan, serta kelancaran arus kapal.
Baca Juga: JNE Genjot Pertumbuhan dan Perkuat UMKM lewat Inovasi Logistik Pelindo juga mengklaim terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Pada 2026, TPS Surabaya akan menerima empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG), sementara TPK Berlian akan ditambah dua unit QCC pada pertengahan tahun. “Kami terus berbenah di seluruh wilayah kerja, dari Belawan hingga Merauke,” pungkas Widyaswendra.
https:
//www.tribunnews.com/bisnis/7787782/pelaku-usaha-keluhkan-antrean-bongkar-muat-di-pelabuhan-pemerintah-perlu-turun-tangan?page=all&s=paging_new. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News