KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara terkait antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Bali.
Pemerintah menegaskan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan akibat kendala teknis dalam proses distribusi pasokan. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menyebut keterlambatan pengiriman armada kapal tanker menjadi pemicu tersendatnya penyaluran BBM di Pulau Dewata.
Baca Juga: Barelang Dilirik untuk Data Center, BP Batam: Potensi Investasi Rp 500 Triliun Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa pasokan BBM sebenarnya telah mulai disalurkan ke daerah terdampak. "Itu masalah proses distribusi saja. Jadi kemarin memang ada keterlambatan kapal, kapalnya sudah tiba, sejak Senin kemarin sudah dilakukan operasi pasar 24 jam," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Laode memastikan, kondisi ketahanan stok BBM secara nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, hambatan pasokan di sejumlah wilayah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem serta dinamika musim yang mengganggu moda transportasi pengangkut BBM. "Ketahanan masih aman 18-20 (hari operasi). Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim," jelasnya.
Baca Juga: PLTA Batang Toru Segera Beroperasi, Pasokan Listrik Sumatra Bertambah Ia mencontohkan tingginya gelombang laut kerap menyulitkan kapal tanker untuk bersandar di pelabuhan meski armada angkut tersebut telah sampai di lokasi tujuan.
"Kalau di darat itu biasanya pakai angkutan sungai, sungainya kering, diantar pakai truk, truknya kan tidak bisa cepat sampainya, berjam-jam dan volumenya tidak banyak," terangnya. Lebih lanjut, Laode menambahkan, permasalahan kendala logistik akibat kondisi alam ini rupanya tidak hanya berdampak pada wilayah Bali, melainkan juga terjadi di beberapa daerah lainnya. Laode menyebut antrean serupa yang sempat muncul di sejumlah wilayah lainnya memiliki akar permasalahan yang relatif sama terkait proses rantai pasok. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News