KONTAN.CO.ID - Kenali apa itu IHSG dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia atau BEI. Masyarakat tentu sedang ramai dan mempertanyakan terkait pembekuan sementara pasar BEI terkait penurunan IHSG hari Selasa (18/3) lalu. Diberitakan oleh Kontan.co,id, BEI selaku penyelanggara pasar modal memberlakukan trading halt terkait penurunan 5% Lebih IHSG dalam sehari. Kebijakan ini kemudian memunclkan banyak istilah bagi masyarakat awam terkait pasar modal Indonesia yang sedang bergejolak. Salah satu istilah yang perlu diketahui adalah IHSG pada BEI. Lalu, apa sebenarnya arti IHSG? Simak penjelasan selengkapnya.
Pengertian IHSG
Cara Menghitung IHSG
Perhitungan angka pada IHSG menggunakan rata-rata berimbang berdasarkan jumlah saham di bursa atau disebut Market Value Weighted Average Index. Pasa prinsipnya, perhitungan IHSG tidak berbeda dengan perhitungan indeks harga saham individual. Hanya saja, dalam perhitungan IHSG, kita harus menjumlahkan seluruh harga saham yang ada (listing). Rumus umum untuk menghitung IHSG dikutip dari buku Pasar Modal Indonesia: Pengantar dan Studi Kasus oleh Widoatmodjo (2009) yakni:IHSG = total harga saham semua pada waktu yang berlaku/total harga semua saham pada waktu dasar x 100 % Bila IHSG berada di atas 100, berarti kondisi pasar sedang dalam keadaan ramai, sebaliknya bila IHSG berada di bawah angka 100, maka pasar dalam keadaan lesu. Bila IHSG tepat menunjuk angka 100, maka pasar dalam keadaan stabilPergerakan jual beli di pasar modal dihitung dan tercatat setiap harinya sehingga muncul sebagai angka dan presentasi naik turunnya IHSG. Sehingga penurunan dan kenaikan dapat menjadi acuan pergerakan investor dalam pasar modal yang diselenggarakan oleh BEI.
Fungsi IHSG
IHSG memiliki peran penting dalam dunia pasar modal, tidak hanya sebagai indikator pergerakan saham tetapi juga sebagai tolak ukur kesehatan ekonomi nasional. Berikut adalah beberapa fungsi utama IHSG:1. Indikator Kesehatan Pasar Modal
IHSG mencerminkan kondisi keseluruhan pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika IHSG mengalami kenaikan, artinya mayoritas saham yang tercatat mengalami peningkatan harga, yang menunjukkan optimisme investor terhadap pasar modal. Sebaliknya, jika IHSG mengalami penurunan, itu bisa menjadi indikasi bahwa pasar sedang melemah akibat berbagai faktor, seperti ketidakpastian ekonomi, kebijakan pemerintah, atau sentimen global. Kenaikan IHSG sering dikaitkan dengan: Pertumbuhan ekonomi yang positif, adanya Kinerja perusahaan yang baik, iklim permintaan beli investor yang meningkat, dan kebijakan moneter yang mendukung, seperti suku bunga rendah Sebaliknya, penurunan IHSG bisa disebabkan oleh: Krisis ekonomi (misalnya resesi global), ketidakpastian politik dalam negeri, kondisi tingginya inflasi atau kenaikan suku bunga, hingga Gejolak pasar global, seperti perang dagang atau krisis keuangan Karena itu, investor dan analis selalu memantau pergerakan IHSG sebagai sinyal untuk memahami arah pasar modal di Indonesia. Baca Juga: Saham-Saham Ini Paling Banyak Diborong Asing Kemarin Saat IHSG Ambles2. Panduan Investasi
IHSG berfungsi sebagai acuan utama bagi investor dalam mengambil keputusan untuk membeli, menjual, atau menahan saham. Investor ritel maupun institusi menggunakan IHSG untuk mengevaluasi tren pasar, apakah sedang dalam fase bullish (menguat) atau bearish (melemah).- Jika IHSG naik, investor cenderung lebih percaya diri untuk masuk ke pasar, terutama pada saham-saham unggulan (blue chip).
- Jika IHSG turun, investor lebih berhati-hati, bisa memilih strategi wait and see atau mencari saham yang dianggap undervalued untuk investasi jangka panjang.
3. Mencerminkan Kondisi Ekonomi
IHSG sering kali bergerak sejalan dengan kinerja ekonomi nasional. Hal ini karena pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh:- Pertumbuhan ekonomi (PDB) Jika ekonomi tumbuh stabil, IHSG cenderung menguat.
- Inflasi & suku bunga Ketika Suku bunga rendah mendorong investasi di saham, sedangkan suku bunga tinggi bisa menekan IHSG.
- Nilai tukar rupiah ketika Pelemahan rupiah bisa berdampak negatif pada IHSG, terutama bagi emiten yang memiliki utang dalam dolar AS.
- Harga komoditas saatSektor saham berbasis komoditas (seperti batu bara, minyak, dan kelapa sawit) sangat bergantung pada harga komoditas global.