Apa Latar Belakang Pecahnya Perang Rusia dan Ukraina?



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Rusia mulai menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022 hingga mengakibatkan adanya ledakan di sejumlah kota besar di Ukraina. 

Pada waktu itu, situasi di perbatasan Rusia dan Ukraina tampak mencekam. Rasanya seperti adegan dari Perang Dingin.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumpulkan ribuan tentara di perbatasan Ukraina. Banyak yang menduga-duga, Rusia akan melancarkan invasi ke negara tetangganya. Kemungkinan akan terjadu pertumpahan darah antara Timur dan Barat.


Dari munculnya kondisi itu, Amerika Serikat untuk mencegah serangan Rusia ke Ukraina.

Melansir BBC, beberapa saat sebelum serangan, Putin dalam pidatonya menyebut, alasan Rusia menyerang adalah karena Rusia tak bisa merasa aman, berkembang, dan eksis. Menurut Putin, Ukraina modern adalah ancaman yang konstan.

Adapun Rusia menolak untuk menyebut serangan sebagai perang ataupun invasi. Putin mengeklaim bahwa tujuannya melakukan perang adalah untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran intimidasi dan genosida.

Baca Juga: Konflik Ukraina dan Jelang Pertemuan The Feb Bikin Gejolak Aset Investasi Global

Apa penyebab krisis Rusia-Ukraina?

Business Insider memberitakan, pada dasarnya, Putin sedang berusaha untuk menggambar ulang batas-batas Eropa pasca-Perang Dingin, membangun zona keamanan yang luas dan didominasi Rusia, dan menarik Ukraina kembali ke orbit Moskow dengan paksa, jika perlu.

Jika terjadi invasi, Amerika Serikat dan sekutunya telah mengancam akan menjatuhkan serangkaian sanksi yang akan jauh melampaui yang dijatuhkan pada tahun 2014, setelah aneksasi Rusia atas Krimea.

Putin telah memperingatkan bahwa menjatuhkan sanksi baru dapat menyebabkan “pecah total” dalam hubungan dengan Washington.

Ada apa di balik krisis Ukraina?

Ketegangan antara Ukraina dan Rusia telah membara sejak 2014. Saat itu, Ukraina menggulingkan presidennya yang pro-Rusia dan militer Rusia menyeberang ke wilayah Ukraina, mencaplok Krimea dan mengobarkan pemberontakan oleh separatis di Ukraina timur. 

Gencatan senjata yang lemah dicapai pada tahun 2015, tetapi perdamaian sulit dicapai di tengah perang yang telah menewaskan lebih dari 13.000 tentara dan warga sipil.

Baca Juga: Pesawat Tempur AS Alami Kecelakaan di Laut China Selatan, 7 Orang Terluka

Posisi Kremlin terhadap tetangganya semakin keras. Putin beranggapan, Ukraina pada dasarnya adalah bagian dari Rusia, secara budaya dan historis. Kekhawatiran muncul pada akhir Oktober, ketika Ukraina menggunakan drone bersenjata untuk menyerang howitzer yang dioperasikan oleh separatis yang didukung Rusia di Ukraina timur. 

Rusia menyebut serangan itu sebagai tindakan destabilisasi yang melanggar perjanjian gencatan senjata.

Hal yang diinginkan Putin

Menjelang berakhirnya masa jabatan politiknya, Putin bertekad untuk memoles warisannya dan memperbaiki apa yang telah lama dilihatnya sebagai bencana abad ke-20: disintegrasi bekas Uni Soviet.

Putin ingin menegaskan kekuasaan Moskow atas Ukraina, sebuah negara berpenduduk 44 juta orang yang sebelumnya merupakan bagian dari blok Soviet dan berbagi perbatasan 1.200 mil dengan Rusia.

Langkah ini merupakan bagian dari tujuannya untuk memulihkan apa yang ia pandang sebagai tempat yang layak bagi Rusia di antara kekuatan-kekuatan besar dunia, bersama dengan Amerika Serikat dan China.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie