KONTAN.CO.ID - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (17/5/2026) menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. WHO mengatakan wabah yang disebabkan oleh strain Bundibugyo tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai keadaan darurat pandemi, namun negara-negara yang berbatasan darat dengan DRC berada dalam risiko tinggi untuk terjadinya penyebaran lebih lanjut. Lalu, apa yang diketahui tentang wabah Ebola terbaru ini dan bagaimana penyebarannya?
Mengutip
Reuters, berikut penjelasannya.
Apa itu Ebola?
Penyakit Ebola merupakan virus yang parah dan sering kali mematikan. Penyakit ini menyebabkan demam, nyeri tubuh, muntah, dan diare, serta menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, material yang terkontaminasi, atau orang yang meninggal akibat penyakit tersebut, menurut Africa Centres for Disease Control and Prevention. Wabah ini merupakan wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo sejak pertama kali ditemukan pada 1976.
Baca Juga: WHO Deklarasikan Wabah Ebola di Kongo-Uganda sebagai Darurat Global Apa itu strain Bundibugyo?
Bundibugyo merupakan salah satu strain dari virus Ebola. Menurut WHO, telah ada dua wabah sebelumnya yang disebabkan strain tersebut. WHO menyebut wabah ini “luar biasa” karena tidak ada terapi maupun vaksin yang disetujui khusus untuk virus Bundibugyo, berbeda dengan strain Ebola-Zaire. “Sayangnya, Bundibugyo memiliki lebih sedikit langkah penanggulangan yang terbukti dibandingkan Zaire ebolavirus, di mana vaksin terbukti sangat efektif dalam mengendalikan wabah,” kata Amanda Rojek, Associate Professor of Health Emergencies, Pandemic Sciences Institute, University of Oxford, dalam sebuah pernyataan.
Ke negara mana wabah ini menyebar?
Pemerintah DRC dan Uganda telah mengonfirmasi adanya kasus, dengan wabah paling parah terjadi di DRC. Africa Centres for Disease Control and Prevention mengatakan pada Minggu bahwa pihaknya berkoordinasi dengan Sudan Selatan untuk memantau aktivitas lintas perbatasan dan membatasi penyebaran internasional lebih lanjut.
Berapa banyak orang yang terdampak?
WHO mengatakan pada Minggu bahwa terdapat delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 80 kematian suspek, dan 246 infeksi suspek. Satu kasus lain di Goma, kota di DRC bagian timur yang dikuasai kelompok pemberontak M23, dikonfirmasi dalam pernyataan yang dirilis kelompok tersebut pada Minggu. Pejabat Uganda juga mengonfirmasi kasus kedua pada Minggu. Namun, WHO memperingatkan bahwa “terdapat ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya dari orang yang terinfeksi dan sebaran geografis terkait peristiwa ini saat ini.”
Tonton: China Sebut Kesepakatan Dagang Hasil Kunjungan Trump Masih Tahap Awal Tabel: Ringkasan Fakta Wabah Ebola DRC-Uganda (Bundibugyo)
| Aspek | Keterangan |
| Status WHO | Darurat kesehatan internasional (PHEIC) |
| Jenis virus | Ebola strain Bundibugyo |
| Negara terdampak | DRC dan Uganda |
| Wabah ke- | Ke-17 di DRC sejak 1976 |
| Kriteria pandemi | Tidak memenuhi status darurat pandemi |
| Risiko penyebaran | Tinggi bagi negara yang berbatasan darat dengan DRC |
Tabel: Data Kasus (WHO per Minggu, 17 Mei)
| Indikator | Jumlah |
| Kasus terkonfirmasi lab | 8 |
| Kematian suspek | 80 |
| Infeksi suspek | 246 |
| Kasus tambahan | 1 kasus di Goma (menurut M23) |
| Kasus Uganda | Kasus kedua dikonfirmasi |
Tabel: Penjelasan Singkat Ebola
| Informasi | Rincian |
| Gejala utama | Demam, nyeri tubuh, muntah, diare |
| Cara penularan | Kontak cairan tubuh, material terkontaminasi, jenazah |
| Kondisi vaksin/obat | Belum ada vaksin/terapi khusus Bundibugyo |