KONTAN.CO.ID - Lini masa media sosial diramaikan oleh unggahan yang menyebutkan potensi Lebaran 2026 versi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung secara serentak. Salah satu unggahan tersebut muncul dari akun TikTok @net***** pada Selasa (17/3/2026). "Hari Raya Idul Fitri 1447 H Bakal Serentak, NU & Muhammadiyah Rayakan Lebaran bersamaan," tulis pengunggah.
Dalam unggahan, disebutkan bahwa ketinggian hilal di sejumlah wilayah diperkirakan mendekati sekitar 3 derajat. Jika kriteria tertentu terpenuhi, Hari Raya Idul Fitri diprediksi jatuh pada 20 Maret 2026, sehingga terdapat kemungkinan kedua organisasi Islam tersebut merayakan Lebaran pada hari yang sama. Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah melalui maklumat resmi yang memuat hasil perhitungan hisab untuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Berdasarkan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dalam perhitungan tersebut disebutkan bahwa ijtimak atau konjungsi menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.
Baca Juga: Darurat Medis Saat Mudik? Begini Cara Pakai BPJS Kesehatan di Seluruh RI Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, sejumlah wilayah di dunia dinilai telah memenuhi Parameter Kalender Global, yakni ketinggian bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi lebih dari 8 derajat. Lantas, benarkah Lebaran 2026 Muhammadiyah dan NU akan jatuh pada hari yang sama?
Lebaran 2026 Muhammadiyah dan NU diprediksi sama?
Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH Marufin Sudibyo, menegaskan secara formal NU belum menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah. Penentuan Idul Fitri masih menunggu hasil rukyatul hilal yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026. Ia menjelaskan, penetapan awal bulan Hijriah di lingkungan NU harus memenuhi ketentuan syariat, yakni berdasarkan terlihatnya hilal, sebagaimana telah ditegaskan dalam sejumlah keputusan Muktamar NU. "Memenuhi ketentuan syariat bahwa awal bulan Hijriah ditetapkan atas dasar terlihatnya hilal, yang sudah dikukuhkan oleh keputusan-keputusan Muktamar 1984, Muktamar 1999, dan Muktamar 2021," kata Marufin kepada Kompas.com, Selasa (17/3/2026). “Apabila terdapat pondok-pondok pesantren di bawah keluarga besar NU yang sudah menetapkan 1 Syawal, maka penetapan itu bukan merupakan keputusan resmi Nahdlatul Ulama,” tambahnya. Menurut Marufin, rukyatul hilal dapat dilakukan oleh siapa pun yang memiliki kompetensi sebagai perukyah atau pengamat. Namun, keabsahan hasil rukyat tetap akan diputuskan melalui forum sidang isbat. Marufin menegaskan, hasil sidang tersebut nantinya menjadi landasan bagi NU dalam menetapkan ikhbar atau pengumuman resmi Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Ia menambahkan, suatu laporan rukyatul hilal dinyatakan sah secara syar’i apabila telah memenuhi kriteria imkan rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yang pada dasarnya merupakan turunan dari kriteria yang disepakati negara-negara anggota MABIMS. Berdasarkan perhitungan awal, Marufin menyebut posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria IRNU di seluruh wilayah Indonesia. "Posisi hilal di titik terbatas dan paling timur Indonesia. Pada semua lokasi, tidak ada yang memenuhi IRNU," jelasnya.
Tonton: 10 Perusahaan Diburu! Skandal Under Invoicing Terbongkar Karena itu, menurut dia, peluang perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah masih terbuka cukup lebar, meskipun kepastian akhirnya tetap bergantung pada hasil rukyatul hilal.
“Semua tergantung hasil rukyatul hilal. Namun secara umum, peluang Idul Fitri berbeda masih sangat terbuka,” tambahnya. Untuk itu, keputusan resmi mengenai awal Syawal tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah pada 19 Maret 2026, yang akan menetapkan secara pasti tanggal Hari Raya Idul Fitri. Sumber:
https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/18/113000465/lebaran-2026-muhammadiyah-dan-nu-bisa-bersamaan-ini-kata-nu?page=all#page1 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News