KONTAN.CO.ID - Bitcoin (BTC) bisa mendapat dorongan jika gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak tercapai. Melansir
Cointelegraph dengan harga BTC saat ini sekitar US$68.596 pada Selasa (7/4/2026) pagi, sejumlah analis menilai tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump pada hari ini bisa menjadi pemicu bagi Bitcoin untuk menembus US$75.000. Jika kesepakatan gagal tercapai, persepsi risiko Bitcoin bisa meningkat karena sifatnya yang terdesentralisasi dan independen.
Baca Juga: WIKA Beton (WTON) Garap Proyek Metro Manila Subway, Nilai Kontrak US$ 100 Juta Sebaliknya, hasil negosiasi yang positif kemungkinan akan mendorong aset berisiko lainnya, termasuk Bitcoin. Trump pada Minggu mengeluarkan ultimatum kepada Iran, memperingatkan bahwa negara itu akan “hidup di neraka” jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali pada Selasa pukul 20.00 waktu ET. Namun, laporan
CNBC menyebut Trump telah “berubah-ubah” antara dialog yang produktif dan ancaman tindakan militer. Pejabat senior Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Iran menerima kompensasi atas kerusakan akibat perang. Sinyal yang campur aduk ini gagal meyakinkan pasar pada Senin, ketika pasar saham AS sebagian besar datar. Di sisi lain, Bitcoin melonjak di atas $69.000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 hari, sementara harga emas tetap di sekitar $4.650, turun 17% dari rekor tertinggi $5.600.
Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah ke 6.982,7 Hari Ini (7/4), Top Losers LQ45: GOTO, TLKM, AMRT Bitcoin Menyusul Emas Trader semakin khawatir bahwa bank sentral akan terpaksa melepas cadangan emas mereka. Bank Sentral Turki melaporkan penjualan 50 ton emas untuk minggu yang berakhir 20 Maret, penurunan tajam terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Menurut
Reuters, Turki juga telah menjual $26 miliar mata uang asing untuk menstabilkan pasar sejak perang AS dan Israel melawan Iran pecah akhir Februari. Cadangan emas Rusia pun tercatat turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir. Gencatan senjata di Iran, walaupun bersifat sementara, hampir pasti akan menguatkan pasar aset berisiko. Namun, implikasinya terhadap Bitcoin tidak sepenuhnya pasti.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.047 Per Dolar AS Hari Ini (7/4), Mayoritas Asia Turun Perusahaan tradisional sangat bergantung pada biaya energi dan logistik global. Oleh karena itu, penurunan risiko geopolitik biasanya langsung tercermin pada harga saham. Namun, kesepakatan antara AS dan Iran kemungkinan berdampak lebih kecil pada Bitcoin, karena penyelesaian konflik kemungkinan akan memperkuat permintaan terhadap Treasury AS. Imbal hasil US Treasury tenor 5-tahun melonjak menjadi 4% dari 3,55% pada akhir Februari, menunjukkan investor menuntut pengembalian lebih tinggi. Sebagian tekanan jual ini berasal dari kekhawatiran inflasi akibat harga minyak tinggi, ditambah beban utang fiskal AS dari pengeluaran militer meningkat. Gencatan senjata dan meningkatnya kepercayaan terhadap Treasury AS dapat mengurangi kebutuhan akan aset lindung nilai alternatif dan sistem keuangan independen seperti Bitcoin. Namun, bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali, Mohit Mirpuri, manajer dana ekuitas di SGMC Capital, memperingatkan bahwa “kerusakan terhadap kepercayaan dan rantai pasokan sudah terjadi hal-hal tidak bisa kembali normal seketika.”
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (7/4): Naik Rp 19.000 Jadi Rp 2.850.000 Per Gram Memprediksi Bitcoin akan naik 8% hanya karena potensi resolusi perang AS dan Israel-Iran terkesan terlalu optimistis. Investor perlahan menyesuaikan diri dengan sifat Trump yang berubah-ubah, terutama saat negosiasi melibatkan pihak ketiga yang tidak dapat diandalkan. Meski begitu, kemungkinan Bitcoin menembus US$75.000 tetap ada jika hasil negosiasi positif muncul pada Selasa, meski momentum bullish yang berkelanjutan kemungkinan baru akan terwujud kemudian. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News