KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) menyebut kontribusi panel surya produksi dalam negeri terhadap total kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional masih relatif kecil. Ketua Umum APAMSI I Made Sandika Dwiantara mengatakan, hingga Maret 2026 kapasitas PLTS terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 1,5 gigawatt (GW).
Baca Juga: Cimory (CMYR) Ekspor Perdana Yogurt ke Vietnam, Ekspor RI Makin Ekspansif Namun, penggunaan panel surya produksi lokal masih di bawah 200 megawatt (MW) atau kurang dari 13% dari total kapasitas tersebut. “Padahal kemampuan produksi pabrikan dalam negeri saat ini sudah mencapai 10 GW per tahun. Artinya, kapasitas industri lokal sebenarnya sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik,” ujar Made kepada Kontan.co.id, Rabu (6/5/2026). Menurutnya, dominasi produk impor di pasar panel surya nasional dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aspek harga, spesifikasi teknis, hingga faktor nonteknis lainnya.
Baca Juga: Harga Solar Non-Subsidi Naik, Penjualan Mobil Diesel Tertekan Karena itu, APAMSI menilai industri panel surya dalam negeri memerlukan dukungan kebijakan agar dapat tumbuh lebih besar dan membangun ekosistem industri yang berkelanjutan. “Industri dalam negeri perlu keberpihakan agar bisa berkembang dan semakin kuat. Jika industrinya tumbuh, dampaknya juga akan mendorong penciptaan lapangan kerja serta berkembangnya ekosistem pendukung lainnya,” katanya. APAMSI juga mendorong pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan kuota PLTS atap guna memperluas pemanfaatan energi surya di dalam negeri. Selain itu, asosiasi meminta agar kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tidak hanya diterapkan pada proyek pemerintah dan BUMN, tetapi juga mencakup proyek swasta.
Baca Juga: Tarif Tinggi AS Tekan Industri Panel Surya RI, Ekspor ke Paman Sam Anjlok Dari sisi fiskal, industri berharap adanya insentif pajak dan bea masuk bagi komponen panel surya. APAMSI juga meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan pembebasan bea masuk untuk panel surya jadi asal China.
Made menilai, produk panel surya lokal kini semakin kompetitif dibandingkan produk impor. “Harga produk dalam negeri saat ini sudah bisa mendekati harga impor dengan selisih sekitar 20%,” ujarnya. Menurutnya, selisih harga tersebut berpotensi semakin kecil apabila pemerintah memberikan dukungan fiskal dan insentif yang setara bagi industri panel surya nasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News