APDESI Dorong Desa Jadi Motor Ekonomi dan Ketahanan Pangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) mendorong desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru dan pilar ketahanan pangan nasional. Dengan lebih dari 75.000 desa di Indonesia, penguatan ekonomi desa dinilai penting untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Umum APDESI Merah Putih, Anwar Sadat, menekankan bahwa desa harus menjadi subjek pembangunan yang mampu menggerakkan perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan. “Hal ini dapat dicapai melalui optimalisasi sumber daya desa serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” kata dia dalaï keterangannya dikutip Jumat (12/6/2026).

Hal itu disampaikan Anwar dalam  Rakernas APDESI Merah Putih 2026 yang membahas berbagai isu strategis seperti pengembangan ekonomi desa, investasi dan kemitraan, transformasi digital, penguatan koperasi, serta ketahanan pangan. 


Sebagai organisasi yang menaungi lebih dari 75.000 kepala desa di seluruh Indonesia, APDESI Merah Putih memandang bahwa desa memiliki posisi strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. 

"Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar," lanjut Anwar.

Baca Juga: Prabowo Klaim Koperasi Desa Ciptakan 18.008 Lapangan Kerja, Tak Bergantung Asing

Dalam kesempatan itu, APDESI mengukuhkan Ketua Yayasan Jaringan Aspirasi Masyarakat (JAM), Johan Aripin Muba, sebagai Ketua Dewan Pakar APDESI Merah Putih atas kontribusinya dalam penguatan ekonomi desa, pemberdayaan masyarakat, dan ketahanan pangan. 

Johan menegaskan bahwa kemajuan desa merupakan fondasi kemajuan bangsa. Untuk mendukung penguatan ekonomi desa, Yayasan JAM bersama APDESI Merah Putih menyiapkan program peternakan ayam rakyat di 75.266 desa, dengan dua kandang produktif berkapasitas total 2.000 ekor ayam per desa. 

Selain itu, akan dibentuk dua koperasi produsen di setiap desa untuk memperkuat produksi, distribusi, dan pemasaran hasil usaha masyarakat.”Program ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Johan. 

Menurut Johan, desa memiliki potensi besar, namun masih menghadapi kendala permodalan, teknologi, pendampingan usaha, dan akses pasar.  Ia mengembangkan program yang mendukung sektor padi, jagung, perikanan, peternakan, serta UMKM desa.

Baca Juga: Prabowo: MBG Jadi Investasi Besar Masa Depan Bangsa dan Kebangkitan Ekonomi Desa

Melalui Yayasan JAM, Johan menggagas ekosistem ekonomi desa terintegrasi dari hulu hingga hilir yang melibatkan masyarakat, koperasi, dan pemerintah. Desa tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga pusat pengelolaan ekonomi yang terhubung dalam jaringan nasional melalui koperasi, Waroeng Pancasila, dan Logistik JAM.

Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 75.000 desa dengan pengembangan usaha peternakan, pertanian, dan koperasi produsen. Petani mendapat dukungan mulai dari pembiayaan, pupuk, pendampingan, hingga kepastian penyerapan hasil panen.

Sebagai penguat sistem, Johan mendorong digitalisasi melalui platform JAMSTREET yang memungkinkan pengelolaan data produksi, distribusi, transaksi, dan keuangan koperasi secara real time, transparan, dan akuntabel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News