KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai target pemerintah untuk mendorong utilisasi industri manufaktur nasional ke level 80%-85% hingga akhir 2026 cukup ambisius. Pasalnya, pemulihan utilisasi industri hingga kini belum merata di seluruh subsektor. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, utilisasi kapasitas industri manufaktur memang menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun lalu. Namun, peningkatan tersebut belum terjadi secara merata. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), rata-rata utilisasi industri pengolahan nonmigas pada 2025 tercatat 61,89%. Sementara, data yang tersedia pada 2026 menunjukkan utilisasi sekitar 64,8%.
Di sisi lain, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut utilisasi industri nasional saat ini sudah mendekati 70%. Angka tersebut relatif sejalan dengan Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia yang mencatat utilisasi kapasitas industri pengolahan mencapai 70,80% pada kuartal III-2026.
Baca Juga: Menperin Sarmuji: Tambahan Gas Diharapkan Angkat Utilisasi Industri hingga 85% "Target tersebut merupakan aspirasi yang positif, tetapi cukup ambisius untuk dicapai dalam waktu yang relatif singkat," ujar Shinta kepada Kontan, Selasa (27/10/2026). Menurut dia, perbaikan aktivitas manufaktur memang mulai terlihat. PMI S&P Global meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026. Sementara PMI-BI naik dari 51,43 pada kuartal II menjadi 52,28 pada kuartal III-2026. Meski demikian, pemulihan belum sepenuhnya merata. Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kemenperin yang turun dari 52,30 pada Agustus menjadi 51,93 pada September 2026. Shinta menilai peningkatan utilisasi tidak cukup hanya dengan memastikan kapasitas produksi tersedia. Sejumlah subsektor masih menghadapi tekanan permintaan, biaya bahan baku, energi hingga persaingan produk impor. Sebagai contoh, utilisasi industri baja masih berada di kisaran 43%-57%, sedangkan industri kimia dan petrokimia berbasis plastik sekitar 48%-60%. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang kapasitas yang cukup besar yang belum dimanfaatkan.
Baca Juga: Utilisasi Kapasitas Industri Rendah, Target Kemenperin 85% Tidak Mudah Dicapai "Industri baja dan plastik, misalnya, menghadapi tekanan persaingan produk impor serta biaya bahan baku. Sementara industri semen perlu meningkatkan penyerapan pasar agar kapasitas produksinya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal," jelasnya. Karena itu, Apindo mendorong pemerintah memperkuat kepastian pasokan energi dengan harga yang kompetitif, terutama gas bumi untuk industri yang bergantung pada gas sebagai bahan baku maupun sumber energi. Penambahan alokasi gas untuk industri dinilai sebagai langkah positif. Namun, implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) perlu dibarengi kepastian volume dan kontinuitas pasokan agar dapat mendukung perencanaan produksi. Selain energi, kelancaran pasokan bahan baku juga perlu dijaga. Pemerintah diminta memastikan proses perizinan dan kepabeanan berjalan efisien, terutama untuk bahan baku yang belum dapat dipenuhi industri domestik. Di sisi permintaan, pemerintah perlu memperkuat daya beli masyarakat, mempercepat belanja produktif serta mengoptimalkan pengadaan barang dan jasa yang menggunakan produk dalam negeri. Apindo juga mendorong perluasan pasar ekspor dan penguatan pengawasan terhadap impor ilegal maupun praktik perdagangan tidak sehat. Instrumen antidumping dan safeguard dinilai dapat digunakan secara terukur untuk menjaga persaingan yang sehat.
Dari sisi pembiayaan, efektivitas penyaluran insentif juga menjadi perhatian. Shinta mencontohkan realisasi Kredit Industri Padat Karya per 23 September 2026 baru mencapai sekitar Rp137,92 miliar atau 25,1% dari plafon 2026 sebesar Rp549,51 miliar. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan dan penyerapan insentif perlu diperbaiki.
Baca Juga: Kemenperin Bidik Utilisasi Industri 85%, Insentif Tambahan Disiapkan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News