APLN siap menggarap proyek Rp 11 triliun



JAKARta. PT Agung Podomoro Land (APLN) siap menggarap 14 hingga 19 proyek baru pada tahun ini. Sebagian besar proyek berlokasi di luar kawasan Jabodetabek. "Kami memerlukan dana sekitar Rp 11 triliun untuk proyek-proyek itu dalam tiga hingga lima tahun ke depan," ujar Direktur Keuangan APLN, Cesar De La Cruz, belum lama ini.

APLN akan menutupi kebutuhan pendanaan dari berbagai sumber, mulai dari kas internal, pinjaman bank hingga penerbitan obligasi. APLN perlu menggeber proyek baru lantaran lebih dari 50% proyek lamanya telah terjual. Begitu pun dengan properti yang disewa. APLN juga mengklaim, tingkat kunjungan mal yang mereka kembangkan sudah di atas 50%.

Wakil Direktur Utama APLN Indra Widjaja menjelaskan perseroan telah dan akan mengeksekusi empat proyek dalam waktu dekat. Pertama, Metro Park Residence yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta. Proyek ini terdiri atas 1.200 apartemen.


Kedua, APLN siap meluncurkan sebuah resor bernama Cimala Hills yang berlokasi di Gadok, Puncak, pada akhir April atau awal Mei tahun ini. Cimala Hills dirancang terdiri atas hotel bintang lima dengan 150 kamar dan hotel bintang tiga dengan 250 kamar. Bangunan hotel akan terintegrasi dengan vila dan fasilitas outbond.

Ketiga, APLN akan membangun Podomoro City Extension yang terdiri atas mal dengan dua tower. Satu tower dirancang sebagai gedung perkantoran. Proyek keempat adalah BnB Hotel yang berlokasi di Kelapa Gading dengan 200 kamar. Di proyek ini, APLN menggandeng Grup Panorama Tour and Travel.

Di luar empat proyek tersebut, APLN telah menyiapkan 10 hingga 15 proyek lain yang berlokasi di berbagai wilayah, khususnya kota-kota lapis kedua di luar Jabodetabek. "Kami akan mengembangkan wilayah-wilayah lapis kedua, kawasan yang pertumbuhannya tinggi," ujar Indra.

Di bulan ini atau bulan depan, APLN akan melebarkan sayap ke kawasan Balikpapan. Selain itu, emiten Grup Agung Podomoro ini telah mengakuisisi tanah seluas 12 hektare (ha) di Makassar. Nantinya, menurut Indra, akuisisi tersebut akan mencapai 200 ha.

Di Karawang, APLN siap mengembangkan kawasan industri seluas 350 ha. "Kami melihat banyak investor yang masuk ke lokasi tersebut," terang Indra.

APLN mengalokasikan dana Rp 3,5 triliun untuk pendanaan awal proyek di tahun ini. Nilai itu masih di luar dana akuisisi.

Manajemen APLN optimistis pendapatan dan laba bersih tahun ini bisa tumbuh masing-masing 10%-15%. Selama 2011, pendapatan usaha APLN mencapai Rp 3,82 triliun dan laba bersihnya Rp 685 miliar. Ini berarti secara maksimal estimasi pendapatan dan laba bersih APLN di 2012 masing-masing Rp 4,39 triliun dan Rp 788 miliar.

Manajemen utang

Kepala Riset Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, berpendapat rencana aksi korporasi APLN ke luar wilayah Jabodetabek, bahkan hingga luar Jawa, merupakan langkah strategis perseroan untuk mengembangkan sayap bisnisnya.

Selain mengandalkan penjualan proyek baru, APLN bisa menggenjot pendapatan berulang-ulang alias recurring income.

Tapi APLN perlu memperhatikan strategi pendanaan. "Salah satunya dari penerbitan obligasi, jangan sampai terlalu tinggi," ujar Reza. Menurut dia, pembayaran cicilan obligasi harus bisa diimbangi dengan target pemasukan perusahaan. Manajemen APLN mesti menjaga debt to equity ratio (DER) jangan terlalu tinggi.

Dengan estimasi pendanaan di berbagai proyek tersebut, APLN bisa mencatatkan DER lebih dari 1 kali. "Meskipun untuk mereka masih dalam tahap aman, harus diimbangi dengan target recurring income yang diperoleh," tambah Reza.

Dia masih merekomendasikan beli saham APLN dengan target Rp 430 per saham. Harga APLN, Jumat (13/4), naik 2,7% menjadi Rp 380 per saham.

Agenda pertama, yang disiapkan JAWA adalah akan menambah sarana produksi. Bentuknya, yakni membangun satu unit pabrik kelapa sawit (PKS) yang memiliki berkapasitas produksi 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam. JAWA selama ini baru memiliki satu PKS berkapasitas 45 ton per jam. Nilai investasi satu PKS baru adalah mencapai Rp 130 miliar.

JAWA juga berniat membangun satu pabrik yang memproduksi karet remah alias (crumb rubber) . Pabrik ini dirancang berkapasitas produksi 3 ton Standard Indonesian Rubber (SIR) per jam. "Kedua pabrik itu akan berlokasi di Kalimantan Selatan, sama seperti lokasi pabrik kami sebelumnya," ujar Direktur JAWA, Bambang S. Ibrahim, ke kepada KONTAN, Senin (9/1).

Pembangunan kedua pabrik tersebut itu diperkirakan berlangsung selama dua tahun. Ini berarti, JAWA baru bisa memperoleh tambahan produksi dari kedua pabrik itu pada pada 2013 nanti.

Menambah lahan baruTak hanya itu, JAWA juga berniat bakal membangun dua pabrik karet lembaran alias rubber sheet . Dua pabrik Kedua pabrik tersebut ini akan menghasilkan memproduksi ribbed smoked sheet (RSS). Kdengan kapasitas masing-masing pabrik 150 kilogram per jam. Dua pabrik itu akan dibangun di dua lokasi, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur.

Nilai investasi untuk membangun dua pabrik itu berkisar Rp 16 miliar. Sebagai catatan, ekspansi tadi akan bakal menambah jumlah pabrik karet lembaran JAWA menjadi delapan unit. S, yang saat ini, JAWA sudah memiliki enam pabrik karet lembaran dengan total berkapasitas produksi mencapai 13.500 RSS per hari.

Agenda ekspansi kedua adalah menanam baru pohon sawit dan karet. Bambang menjelaskan, JAWA pada tahun ini akan menanam 3.500 hektare (ha) lahan kelapa sawit di Kalimantan Selatan. JAWA juga akan menanami 4.500 ha lahan karet baru.

Agenda ketiga adalah menambah lahan baru. JAWA kini telah memiliki lahan seluas 62.000 ha yang tersebar di Jawa dan Kalimantan. Sekitar 43% dari jumlah itu telah ditanami empat komoditas, yaitu kelapa sawit, karet, kopi dan teh. Adapun 57% lahan adalah cadangan untuk ekspansi di tahun-tahun mendatang.

JAWA juga berencana menambah 62.000 ha lahan baru secara bertahap dalam rentang lima tahun. Tapi Bambang belum bisa memperkirakan penambahan jumlah lahan baru di tahun ini. "Kami ingin sebanyak-banyaknya, kalau ada peluang untuk akuisisi, kami pasti lakukan," tukas dia.

JAWA menyatakan sudah menyiapkan capital expenditure (capex) untuk rencana ekspansinya. JAWA menggunakan tiga sumber pendanaan untuk menutup kebutuhan capex dengan Demi menyokong ekspansi itu, JAWA menyiapkan capex Rp 489 miliar. Dana belanja modal akan dipenuhi dari tiga sumber.

Masing-masing adalah Masing-masing, yaitu dana hasil penawaran saham perdana (IPO) yang masih tersisa senilai Rp 505,39 miliar, kas internal yang nilainya senilai Rp 553,67 miliar per akhir September 2011, serta kemungkinan mencari pinjaman baru. "Kami masih menghitung berapa komposisi pendanaan yang pas untuk dari tiga sumber itu," tandas Bambang.Paragraf selanjutnya.

Reza Priyambada, Kepala Riset Indosurya Asset Management, menilai, fundamental JAWA tidak bermasalah. Tapi kinerja saham emiten ini selepas IPO kurang seksi dibandingkan saham kalah gereget dengan emiten perkebunan yang lainlainnya. Penyebabnya, nilai Ini lantaran rendahnya kapitalisasi pasar JAWA, yang hanya Rp 1,4 triliun. Bandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar PT Sampoerna Agro Tbk yang mencapai senilai Rp 5,95 triliun atau

PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk Rsenilai Rp 4 triliun. "Saham JAWA kurang likuid," ungkap Reza.Karena masih bisa menguat HTapi, harga saham JAWA masih bisa menguat di dalam jangka panjang. Reza merekomendasikan beli untuk saham JAWA, dengan target Rp 550 per saham per hingga akhir 2012. "Kalau secara harian kenaikannya memang tersendat, tapi secara jangka panjang masih punya peluang untuk menguat," tandas Reza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Asnil Amri