KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut sekitar 95% pusat perbelanjaan di Indonesia berada di segmen menengah ke bawah. Kondisi ini membuat tekanan harga barang impor bukan menjadi faktor utama yang memengaruhi sebagian besar aktivitas belanja masyarakat. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, komposisi pusat perbelanjaan di Indonesia terdiri dari sekitar 5% kelas atas, 35% kelas menengah, dan 60% kelas bawah.
"Sehingga sebenarnya pusat perbelanjaan di Indonesia didominasi oleh kelas menengah bawah yang jumlahnya sekitar 95%," ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Tarif AS Bayangi Kinerja Ekspor Industri Padat Karya Dengan komposisi tersebut, kenaikan harga barang atau produk impor dinilai tidak akan terlalu berdampak terhadap mayoritas pasar ritel di pusat perbelanjaan. Pasalnya, produk impor di sektor ritel lebih banyak menyasar segmen kelas menengah atas hingga kelas mewah. "Sementara segmen pasar konsumen sektor ritel lebih didominasi oleh kelas menengah bawah," sambung Alphonzus. Di sisi lain, ia bilang secara keseluruhan industri ritel pusat perbelanjaan saat ini masih menghadapi periode
low season setelah momentum Ramadan dan Idulfitri yang menjadi puncak penjualan ritel. Menurut Alphonzus, periode
low season tahun ini relatif lebih dalam dan panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Triwulan kedua dan ketiga tahun ini menjadi periode low season yang relatif lebih panjang karena Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal di kuartal I-2026," katanya. Untuk menjaga penjualan tenant selama periode tersebut, pengelola pusat perbelanjaan mengandalkan program acara dan promo belanja berskala nasional maupun regional.
Baca Juga: Pos Indonesia Buka Suara soal Audit dan Penyesuaian Pembukuan Rp 9 Triliun Alphonzus membeberkan, beberapa program yang digelar antara lain Liburan Sekolah, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Wonderful Indonesia Gastronomy, Jakarta Great Sale, Solo Raya Great Sale, hingga Surabaya Shopping Festival, dan lainnya. Menurut dia, berbagai program promo ini menjadi salah satu strategi untuk menopang penjualan ritel di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih. "Program promo belanja dapat menjadikan harga barang ataupun produk menjadi lebih terjangkau oleh masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah," tandas Alphonzus. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News