APPHI Memperkirakan Kenaikan Permintaan Daging Sapi Jelang Akhir 2026 Capai 30%



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Permintaan daging sapi diperkirakan meningkat menjelang akhir 2026 hingga awal 2027. Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) memperkirakan kenaikan permintaan pasar pada periode tersebut mencapai 20%-30% dibandingkan kondisi normal. Direktur Eksekutif APPHI, Marina Ratna mengatakan, peningkatan permintaan tersebut merupakan pola yang biasa terjadi menjelang akhir tahun. “Permintaan pasar menjelang akhir tahun biasanya kenaikannya 20%-30%,” ujar Marina kepada Kontan.co.id, Kamis (5/11/2026).

Baca Juga: Perminas Mulai Eksplorasi Logam Tanah Jarang di Lahan Seluas 7.300 Hektare Meski permintaan diperkirakan meningkat, Marina menilai prospek usaha daging sapi justru kurang menggembirakan bagi sebagian pelaku usaha. Ia menyoroti distribusi alokasi pasokan yang dinilai terkonsentrasi pada satu perusahaan swasta beserta sejumlah perusahaan afiliasinya. “Prospek pengusahaan daging sapi, baik yang tergabung di APPHI maupun yang tidak tergabung sangatlah jelek. Pemerintah hanya memberikan 84% ke BUMN dan mereka memberikan kepada satu PT dan 12 afiliasi PT tersebut,” ujar Marina. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku usaha lain kesulitan memperoleh pasokan untuk memenuhi permintaan pasar. Keterbatasan akses terhadap stok juga membuat pelaku usaha di luar kelompok perusahaan tersebut tidak memiliki keleluasaan dalam menjalankan kegiatan perdagangan daging sapi. Terkait perusahaan yang disebut menguasai stok daging sapi, Marina tidak bisa menyebutkan identitasnya. Ia menyebut APPHI saat ini tidak memiliki stok daging sapi karena pasokan berada di bawah penguasaan perusahaan tersebut. “Kami tidak memiliki stok, semua dipegang oleh PT swasta tersebut dan dia yang mengatur harganya,” katanya. Marina menilai, konsentrasi penguasaan stok tersebut berpotensi memengaruhi pembentukan harga daging sapi di pasar. Dengan akses pasokan yang terbatas bagi pelaku usaha lain, keputusan perusahaan pemegang stok dinilai turut menentukan arah harga di tingkat perdagangan. Ia mengatakan, potensi kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan permintaan menjelang akhir tahun. Kebijakan harga dari perusahaan yang menguasai pasokan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. “Kalau stok mereka cukup, tetapi soal kenaikan tergantung kepada PT ini. Kalau mereka merasa kurang cukup untungnya pasti dinaikkan tanpa ada yang berani mengintervensi harga mereka, sekalipun itu pemerintah,” ungkapnya. Menurut Marina, kondisi tersebut berisiko membebani konsumen apabila kenaikan permintaan pada akhir tahun diikuti penyesuaian harga dari perusahaan pemegang pasokan. Dengan demikian, peningkatan kebutuhan pasar berpotensi menjadi tekanan tambahan bagi konsumen daging sapi. Sebagai tambahan informasi, berdasarkan data Pemantauan Harga Pangan Minggu IV Oktober 2026, harga daging sapi tercatat sebesar Rp 148.350 per kilogram. Harga tersebut meningkat 8,0% secara tahunan (year on year/YoY), meskipun turun 0,3% secara mingguan (week to week/WtW). Di tengah prospek kenaikan permintaan tersebut, ketersediaan stok dan kelancaran distribusi menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan di pasar. Terlebih, persoalan akses stok yang disampaikan APPHI berpotensi memengaruhi kemampuan pelaku usaha lain dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Baca Juga: Yoshinoya Buka Gerai Baru di Kemanggisan Utama Raya


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News