APPI: Layanan BNPL Perusahaan Pembiayaan Masih Dibutuhkan Masyarakat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater di perusahaan pembiayaan masih dibutuhkan masyarakat ke depannya.

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan layanan BNPL tentu bisa membantu masyarakat untuk memiliki barang yang dibutuhkannya, sekaligus membantu mengelola keuangan mereka.

"BNPL akan sangat dibutuhkan masyarakat. Kalau masyarakat bisa mengatur cash flow, akan menjadi bagus. Kalau punya sejuta, cuma bisa beli satu barang. Namun, BNPL itu sejuta, bisa beli tiga barang dengan dicicil," katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).


Baca Juga: Fintech Samir Salurkan Pembiayaan Kumulatif Rp 7,8 Triliun ke 5,3 Juta Akun Borrower

Suwandi menerangkan masyarakat juga perlu mengingat bahwa BNPL sejatinya adalah beli bayar tetapi dicicil. Dengan demikian, dia bilang masyarakat tentu perlu mengingat kewajibannya untuk mencicil barang yang dibeli melalui BNPL.

"Harus ingat beli barang, bayar cicil. Terkadang orang itu tidak mengerti Buy Now, Pay Later apa? Dengan demikian, harus diingatkan kewajiban beli barang, bayar cicil," ucap Suwandi.

Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman juga memproyeksikan pembiayaan BNPL diperkirakan tetap bertumbuh ke depannya.

Agusman menyebut proyeksi itu tak terlepas dari adanya perkembangan ekosistem digital. Selain itu, dipicu juga meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang fleksibel, khususnya dari segmen usia produktif dan masyarakat yang belum mendapatkan akses layanan keuangan formal.

"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun, meskipun menghadapi tantangan, antara lain dinamika perekonomian," ujar Agusman.

Baca Juga: Laju Pertumbuhan Pembiayaan Syariah Masih Tertinggal dari Kredit Industri Perbankan

Terkait kinerja, OJK mencatat, penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan sebesar Rp 13,62 triliun per Juli 2026, atau tumbuh 54,65% secara Year on Year (YoY).

Sementara itu, Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan tercatat masih terjaga. NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan per Juli 2026 sebesar 3,03%. Angkanya tercatat membaik dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 3,09%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: