JAKARTA. Pertumbuhan industri pembiayaan tahun ini memang pesat. Tapi sayang, tingginya rasio pembiayaan bermasalah alias non performing loan (NPL) membayangi industri multifinance, terutama pembiayaan otomotif. Data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memaparkan, NPL industri multifinance saat ini berada di kisaran 1,31%. Penyumbang terbesar NPL adalah pembiayaan konsumen, yang didominasi otomotif dengan tingkat NPL mencapai 1,8%. Ketua APPI Wiwie Kurnia berharap, rasio NPL tahun depan bisa ditekan lebih rendah lagi. "Kami berharap NPL turun menjadi 1,2% di tahun depan, dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia membaik," kata dia, belum lama ini. Untuk menekan NPL, Wiwie mengimbau seluruh multifinance segera melakukan perbaikan manajemen risiko.
APPI targetkan NPL tahun depan 1,2%
JAKARTA. Pertumbuhan industri pembiayaan tahun ini memang pesat. Tapi sayang, tingginya rasio pembiayaan bermasalah alias non performing loan (NPL) membayangi industri multifinance, terutama pembiayaan otomotif. Data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memaparkan, NPL industri multifinance saat ini berada di kisaran 1,31%. Penyumbang terbesar NPL adalah pembiayaan konsumen, yang didominasi otomotif dengan tingkat NPL mencapai 1,8%. Ketua APPI Wiwie Kurnia berharap, rasio NPL tahun depan bisa ditekan lebih rendah lagi. "Kami berharap NPL turun menjadi 1,2% di tahun depan, dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia membaik," kata dia, belum lama ini. Untuk menekan NPL, Wiwie mengimbau seluruh multifinance segera melakukan perbaikan manajemen risiko.