Apple Beri Outlook Penjualan di Bawah Ekspektasi, Saham Turun 5,5%



KONTAN.CO.ID - Apple memperkirakan pertumbuhan penjualan pada kuartal yang berakhir September 2026 akan lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Proyeksi tersebut mengecewakan investor karena perusahaan masih menghadapi kendala rantai pasok untuk memenuhi tingginya permintaan produk.

Setelah pengumuman tersebut, saham Apple turun sekitar 5,5% dalam perdagangan setelah penutupan (after-hours).


Baca Juga: Setelah UEFA, CONCACAF Juga Tolak Proposal FIFA Jual Saham Turnamen

Chief Executive Officer (CEO) Apple Tim Cook mengatakan tantangan utama saat ini bukan berasal dari lemahnya permintaan, melainkan keterbatasan pasokan komponen.

"Kami menghadapi kendala pasokan yang sangat signifikan saat ini dengan fleksibilitas rantai pasok yang terbatas untuk mengatasinya," kata Cook dalam paparan kepada analis dikutip Reuters Jumat (31/7/2026).

Ia menambahkan Apple tengah mengevaluasi berbagai opsi, termasuk mencari pemasok alternatif untuk chip memori.

Chief Financial Officer (CFO) Apple Kevan Parekh mengatakan, perusahaan memperkirakan pendapatan pada kuartal berjalan tumbuh 9% hingga 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Proyeksi tersebut berada di bawah perkiraan analis Wall Street yang mengharapkan pertumbuhan sekitar 12%, menurut data LSEG.

Baca Juga: BOJ Akan Pertahankan Suku Bunga, Beri Sinyal Hawkish Karena Pemerintah Menopang Yen

Apple juga memperkirakan penjualan iPhone meningkat pada kisaran belasan persen (mid-teens), lebih rendah dibandingkan proyeksi analis sebesar 17,6%.

Sementara itu, margin laba kotor diperkirakan berada di kisaran 47%-48%.

Kekurangan pasokan chip

Dalam wawancara dengan Reuters, Cook menjelaskan hambatan utama pada kuartal fiskal ketiga yang berakhir 27 Juni berasal dari kelangkaan teknologi manufaktur chip canggih yang digunakan untuk memproduksi Apple Silicon.

Menurut Cook, kondisi tersebut paling terasa pada lini komputer Mac.

Baca Juga: AS Mendesak China Terkait Komitmen Logam Tanah Jarang dan Produk Pertanian

Meski demikian, penjualan Mac tetap melonjak 28,7% menjadi US$ 10,35 miliar, didorong tingginya permintaan untuk MacBook Neo dan MacBook Pro, meskipun harga produk mengalami kenaikan.

"Kami sedang menikmati siklus produk yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Namun, rantai pasok teknologi manufaktur chip canggih tidak memiliki fleksibilitas yang cukup untuk memenuhi permintaan yang sangat tinggi," ujar Cook.

Kinerja kuartal III melampaui ekspektasi

Meski prospek kuartal berikutnya mengecewakan, Apple membukukan kinerja kuartal fiskal III yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Pendapatan perusahaan naik 16,4% secara tahunan menjadi US$ 109,42 miliar, lebih tinggi dibandingkan estimasi analis sebesar pertumbuhan 15,5%.

Baca Juga: Terusan Suez Berpotensi Jadi Medan Baru Konflik AS-Iran setelah Serangan Drone

Laba per saham mencapai US$ 2,02, termasuk kontribusi US$ 0,11 per saham dari pengembalian tarif (tariff refunds) pemerintah AS.

Tanpa memperhitungkan faktor tersebut, laba Apple tetap melampaui estimasi analis sebesar US$ 1,89 per saham.

Pendorong utama kinerja berasal dari penjualan iPhone yang naik 21,7% menjadi US$ 54,25 miliar, sedikit di atas estimasi analis sebesar US$ 53,86 miliar.

Capaian tersebut menjadi penjualan iPhone kuartal ketiga tertinggi sepanjang sejarah Apple.

Lonjakan permintaan dipicu aksi konsumen membeli iPhone lebih awal di tengah krisis pasokan chip memori global yang telah mendorong Apple menaikkan harga Mac dan iPad.

Hingga kini Apple belum menaikkan harga iPhone, meski banyak analis memperkirakan kenaikan harga akan diumumkan pada peluncuran model terbaru September mendatang.

Baca Juga: UEFA Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham ke Investor Swasta

Bisnis layanan melambat

Di sisi lain, bisnis layanan (services) Apple mencatat pertumbuhan yang lebih lemah.

Pendapatan segmen tersebut naik 12,1% menjadi US$ 30,74 miliar, masih di bawah ekspektasi analis sebesar US$ 31,22 miliar.

Analis D.A. Davidson Gil Luria menilai, perlambatan pertumbuhan bisnis layanan menjadi perhatian investor.

Menurutnya, jika pertumbuhan layanan mulai melambat ketika penjualan iPhone masih meningkat lebih dari 20%, maka perlambatan bisa semakin besar ketika penjualan iPhone kembali normal.

Baca Juga: BP Bakal Pangkas 700 Karyawan Non-Frontline demi Tingkatkan Profitabilitas

Parekh menjelaskan pendapatan App Store, khususnya dari gim seluler, masih menghadapi tekanan.

Ia menyebut perubahan regulasi di Uni Eropa yang mewajibkan Apple membuka akses bagi toko aplikasi alternatif, serta putusan pengadilan di AS dalam sengketa dengan Epic Games, turut membebani bisnis App Store.

Sementara itu, Cook mengatakan Apple masih melihat peluang monetisasi fitur kecerdasan buatan (AI) yang baru diperkenalkan melalui Siri.

Menurutnya, perusahaan berpotensi menawarkan fitur AI premium melalui layanan iCloud Plus, sehingga pengguna dapat membayar biaya tambahan untuk memperoleh kemampuan AI yang lebih lengkap.

TAG: