Apple Tersalip Samsung Setelah 16 Tahun, Skor Brand Intimacy Anjlok



KONTAN.CO.ID - Apple untuk pertama kalinya dalam 16 tahun harus mengakui keunggulan Samsung dalam hal brand intimacy atau kedekatan emosional konsumen terhadap sebuah merek.

Berdasarkan studi MBLM 2026, skor Apple merosot tajam hingga membuat perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu turun ke peringkat ketujuh secara keseluruhan.

Studi tahunan MBLM mengukur keterikatan emosional konsumen terhadap berbagai merek. Pada 2026, penelitian tersebut mencakup 425 merek yang tersebar di 23 industri.


Hasil ini menjadi catatan penting bagi Apple. Selama 16 tahun MBLM melakukan analisis keterlibatan merek, Apple selalu berada di atas Samsung. Namun, posisi tersebut berubah pada 2026.

Baca Juga: Saham Apple Diprediksi Tertekan Saat iPhone 18 Meluncur, Kenaikan Harga Jadi Alasan

Skor Brand Intimacy Apple Anjlok

Mengutip Apple Insider, penurunan posisi Apple terutama disebabkan oleh merosotnya skor brand intimacy perusahaan tersebut. Pada 2025, Apple mencatat quotient score sebesar 63,7. Setahun kemudian, skor tersebut jatuh menjadi 55,5.

MBLM menggunakan quotient score yang mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk prevalensi, intensitas, dan karakter hubungan konsumen dengan suatu merek.

Brand intimacy sendiri mengukur seberapa kuat hubungan emosional konsumen dengan sebuah perusahaan. Penilaiannya mencakup berbagai bentuk keterikatan, seperti nostalgia, indulgence atau pemenuhan keinginan, serta identitas.

Temuan itu menjadi semakin menarik karena Samsung sebenarnya tidak mengalami peningkatan skor.

Pada 2025, Samsung mencatat skor brand intimacy 59,9. Angka tersebut tetap bertahan di level yang sama pada 2026.

Artinya, keberhasilan Samsung mengungguli Apple bukan karena konsumen tiba-tiba menjadi jauh lebih loyal terhadap Samsung. Sebaliknya, posisi Samsung relatif stabil ketika skor Apple mengalami penurunan cukup besar.

Baca Juga: CEO Baru Apple John Ternus, Ini Kiprah dan Produk yang Pernah Ditanganinya

Apple Tidak Sendirian

MBLM mencatat sejumlah merek besar lainnya juga mengalami penurunan skor brand intimacy pada 2026.

Contohnya adalah Disney. Mereka masih menjadi merek dengan peringkat tertinggi dalam studi tersebut. Namun, skor perusahaan hiburan itu turun enam poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan hubungan konsumen dengan merek terjadi dalam konteks ekonomi yang lebih luas.

Menurut MBLM, inflasi, stagnasi upah, dan ketidakpastian menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi penilaian konsumen terhadap berbagai merek pada tahun ini.

Kenaikan harga produk dan layanan di tengah tekanan ekonomi dapat membuat konsumen semakin kritis terhadap nilai yang mereka dapatkan dari sebuah merek.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi hubungan emosional yang sebelumnya sudah terbentuk.

Baca Juga: Gaji John Ternus Jadi CEO Apple Capai Rp1 Triliun, Ini Rinciannya