JAKARTA. APR Energy yang sebelumnya mematikan PLTD di Nias sehingga memadamkan pulau itu. Kini mereka sudah kembali beroperasi. Namun demikian, pada Rabu (19/5) tiba-tiba APR Anergy mengirim surat terbuka dengan isinya sangat mengejutkan. Perusahaan Amerika Serikat itu akan meninggalkan Indonesia secara permanen, bukan saja di Nias tetapi pembangkit APR yang ada di beberapa daerah. Ketua dan CEO APR Energy John Campion menulis, sejak tahun 2013 lalu, APR sudah bekerja dan memberikan pasokan listrik yang dapat diandalkan. Sayangnya PLN belum membayar tagihan-tagihan APR Energy. "Perusahaan itu tidak menghormati kontrak dengan kami. Tetapi PLN terus mengumpulkan uang dari masyarakat Nias untuk listrik yang mereka gunakan," kata dia dalam surat terbukanya ke KONTAN, Rabu (19/5). Dia menyatakan, oleh karena itu, APR tidak dapat lagi bisa meneruskan beroperasi di Nias atau dimanapun di Indonesia. "Pada akhir Mei kami akan secara permanen akan menutup PLTD berkapasitas 20 MW," kata dia.
APR Energy ancam matikan lagi PLTD di Nias
JAKARTA. APR Energy yang sebelumnya mematikan PLTD di Nias sehingga memadamkan pulau itu. Kini mereka sudah kembali beroperasi. Namun demikian, pada Rabu (19/5) tiba-tiba APR Anergy mengirim surat terbuka dengan isinya sangat mengejutkan. Perusahaan Amerika Serikat itu akan meninggalkan Indonesia secara permanen, bukan saja di Nias tetapi pembangkit APR yang ada di beberapa daerah. Ketua dan CEO APR Energy John Campion menulis, sejak tahun 2013 lalu, APR sudah bekerja dan memberikan pasokan listrik yang dapat diandalkan. Sayangnya PLN belum membayar tagihan-tagihan APR Energy. "Perusahaan itu tidak menghormati kontrak dengan kami. Tetapi PLN terus mengumpulkan uang dari masyarakat Nias untuk listrik yang mereka gunakan," kata dia dalam surat terbukanya ke KONTAN, Rabu (19/5). Dia menyatakan, oleh karena itu, APR tidak dapat lagi bisa meneruskan beroperasi di Nias atau dimanapun di Indonesia. "Pada akhir Mei kami akan secara permanen akan menutup PLTD berkapasitas 20 MW," kata dia.