KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan harga minyak mentah dunia diakui cukup mempengaruhi harga sejumlah bahan baku pembuatan produk tekstil. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kenaikan harga minyak global sudah berlangsung sejak awal Februari lalu. Hal ini tentu mengerek harga Paraxylene (PX), Purified Terephtalic Acid (PTA), dan Methyl Ethylene Glycol (MEG) yang merupakan bahan baku serat dan benang filament. Kenaikan harga komoditas tersebut juga turut mendongkrak harga bubur kertas (pulp) sebagai bahan baku serat rayon serta ikut menaikkan harga kapas lantaran biaya kargonya juga meningkat. “Kalau serat dan benang naik, otomatis kain juga naik. Ini terjadi di semua sektor turunan minyak, terutama chemical,” imbuh Redma, Minggu (14/3).
Baik serat maupun benang filament merupakan produk hilir dari industri petrokimia sekaligus produk hulu atau bahan baku pembuatan produk tekstil. Redma mengambil contoh, ketika harga PTA dan MEG naik sekitar 40%, otomatis harga jual bahan baku seperti serat dan benang filament dapat ikut naik sekitar 20%-25%. Hal ini tentu turut mempengaruhi industri tekstil di sektor hilir. Baca Juga: Harga Minyak Terus Melejit, Industri Manufaktur Bisa Menjerit Namun, perlu dilihat juga secara menyeluruh bahwa kenaikan harga minyak merupakan fenomena yang bersifat global, sehingga normalnya harga barang yang bahan bakunya berasal dari komoditas tersebut juga ikut naik. “Kecuali ada barang impor yang disubsidi negaranya dan dijual dengan harga dumping,” ujar dia.