APSyFI Sebut Industri Masih Bertahan Meski PMI Manufaktur Kembali Ekspansif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menilai kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei 2026 tidak lepas dari mulai pulihnya aktivitas pembelian bahan baku oleh industri setelah sempat tertahan pada April akibat lonjakan harga.

Berdasarkan data S&P Global, PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik menjadi 50,0 dari 49,1 pada April 2026. Kenaikan tersebut membawa sektor manufaktur kembali ke ambang ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi.

Baca Juga: Apindo: PMI Manufaktur Naik, Tapi Industri Belum Sepenuhnya Pulih


Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, pada April banyak pelaku industri menunda pembelian bahan baku karena terjadi lonjakan harga yang cukup tajam. Namun pada Mei, perusahaan tidak lagi bisa menahan pembelian karena kebutuhan produksi harus tetap dipenuhi.

"Pada April memang terjadi shock kenaikan harga sehingga semua menahan pembelian bahan baku. Namun pada Mei perusahaan harus tetap membeli bahan baku, meskipun volumenya belum kembali seperti sebelum kenaikan harga," ujar Redma kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, volume pembelian bahan baku pada Mei memang meningkat dibandingkan April. Namun, realisasinya masih lebih rendah dibandingkan periode Januari dan Februari 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur mulai bergerak kembali setelah sempat tertahan pada bulan sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk menandakan pemulihan yang kuat.

Redma menilai sektor manufaktur masih menghadapi berbagai tekanan, terutama dari sisi biaya produksi yang meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga dinilai berpotensi menekan aktivitas industri karena meningkatkan biaya pembiayaan dan dapat mempengaruhi permintaan pasar.

Di tengah tekanan tersebut, industri domestik juga masih harus menghadapi persaingan ketat dari produk impor yang terus membanjiri pasar dalam negeri.

"Semester II industri masih akan berada dalam situasi bertahan. Kami melihat tren yang memburuk pasca pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga. Di sisi lain, barang impor juga masih aktif membanjiri pasar," kata Redma.

Menurut APSyFI, kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor berpotensi meningkatkan biaya produksi dalam beberapa bulan ke depan.

Karena itu, meskipun PMI manufaktur kembali memasuki zona ekspansi, pelaku industri belum melihat adanya ruang yang cukup besar untuk melakukan ekspansi usaha secara agresif.

APSyFI memperkirakan fokus utama industri pada semester II-2026 masih akan tertuju pada upaya menjaga kelangsungan usaha, mengendalikan biaya produksi, serta mempertahankan pangsa pasar di tengah tekanan produk impor dan ketidakpastian ekonomi global.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan PMI pada Mei dipandang lebih sebagai sinyal perbaikan aktivitas jangka pendek dibandingkan indikasi pemulihan manufaktur yang telah berlangsung secara kuat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Ketergantungan Dana Sawit untuk Biodiesel Kian Berat, Pemerintah Cari Pembiayaan Baru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News