APTI Minta Menkeu Purbaya Tegas dalam Menjaga Keberlanjutan Ekonomi Tembakau



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan kementerian/lembaga yang berkaitan untuk mengambil sikap tegas dalam menjaga keberlangsungan ekonomi pertembakauan nasional.

Pasalnya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI), Agus Parmuji, mengatakan, pihaknya masih pesimistis terhadap prospek pertembakauan, meskipun tarif cukai hasil tembakau tahun ini tidak dinaikkan. 

Pesimisme para petani didorong beberapa hal. Salah satunya, peredaran rokok ilegal yang masih tinggi. 


Baca Juga: Pasokan Batubara Dalam Negeri Terancam, Pupuk Indonesia Lakukan Penyesuaian

"Kalau pemerintah tidak melakukan ketegasan dalam memberantas rokok ilegal, pangsa industri rokok legal akan terus tergerus," ujarnya kepada Kontan, Minggu (22/2/2026) malam.

Belum lagi, pemerintah berencana memperketat batas kadar tar dan nikotin pada produk tembakau. 

Menurut Agus, jika ditetapkan, hal ini dapat memengaruhi industri untuk menyerap tembakau. "Karena tembakau nasional itu rata-rata untuk tar dan nikotinnya masih di atas rencana pemerintah (nikotin 1 miligram dan tar 10 miligram per batang)," imbuhnya.

Selain itu, impor tembakau kata Agus juga belum dibatasi dan diatur secara ketat. Ditambah, lanjutnya, penjualan rokok belum termonitor secara menyeluruh.

Saat ini, APTI mencermati yang dibutuhkan adalah regulasi yang memberantas rokok ilegal.

"Maka sikap Menteri Purbaya sekarang itu ditunggu oleh rakyat pertembakauan untuk melindungi, untuk melestarikan budaya tembakau," ujar Agus.

Dampak yang dirasakan petani akibat peredaran rokok ilegal dan  lemahnya regulasi, menurutnya, ialah  menurunnya omzet pada 2025 hingga 40% dibandingkan saat pandemi. Sebab, petani disebut tak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga hasil.

"Harapan kami saat ini, bagaimana negara dapat jujur, adil, dan bijaksana dalam merumuskan kebijakan, dengan mempertimbangkan keadaan petani," katanya.

Lebih lanjut, Agus menyoroti bahwa tembakau adalah sumber kehidupan banyak rakyat. "Tidak hanya melulu berbahaya bagi kesehatan, tetapi kontribusi tembakau yang besar ke perekonomian Indonesia," pungkasnya. Baca Juga: Intiland Luncurkan Sakha Semanan di Jakbar, Rumah Tapak Harga Rp 1,9 Miliaran

Selanjutnya: Permata Bank (BNLI) Bakal Gelar RUPST pada 7 April 2026

Menarik Dibaca: Promo Payday Starbucks & Chatime Tebar Diskon Spesial hingga Bundling Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News