Arab Saudi Berpotensi Pangkas Harga Minyak untuk Pasar Asia dari Rekor Tinggi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Arab Saudi diperkirakan akan menurunkan harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentah untuk pengiriman Juni ke pasar Asia. Penurunan ini terjadi setelah premi pasar spot melemah dan permintaan mulai mendingin pasca gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Berdasarkan survei Reuters terhadap pelaku industri, harga minyak andalan Arab Light kemungkinan akan turun ke kisaran premi US$7,50 hingga US$14,50 per barel di atas rata-rata harga acuan Dubai dan Oman. Angka ini lebih rendah sekitar US$5 hingga US$12 per barel dibandingkan OSP bulan Mei yang sempat mencetak rekor tertinggi.

Permintaan Melemah, Premi Spot Turun Tajam

Penurunan harga ini mencerminkan kondisi pasar minyak global yang mulai stabil setelah lonjakan tajam pada Maret. Data Reuters menunjukkan premi harga minyak Dubai terhadap swap turun menjadi US$9,17 per barel pada Senin, dari level tertinggi historis di atas US$60 per barel pada Maret saat gangguan pasokan terjadi.


Baca Juga: Uni Eropa Desak ASEAN Hindari Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi Global

Rata-rata premi Dubai sepanjang April tercatat US$15,22 per barel, turun lebih dari separuh dibandingkan rata-rata Maret sebesar US$38,30 per barel. Tren serupa juga terjadi pada minyak Oman.

Meski konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, harga fisik minyak mentah mulai melemah seiring meredanya aksi pembelian panik dan melambatnya permintaan di pasar Asia.

Pasokan Alternatif Mulai Masuk

Pasokan pengganti dari Amerika Serikat, Afrika Barat, dan wilayah lain diperkirakan mulai tiba sejak akhir April. Selain itu, kilang di India dan Asia Tenggara juga meningkatkan pembelian minyak Rusia, memanfaatkan keringanan kebijakan dari AS.

Di sisi lain, China sebagai pembeli terbesar minyak Saudi menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku yang tidak sebanding dengan kenaikan harga bahan bakar. Pemerintah Beijing juga membatasi ekspor bahan bakar olahan, yang turut menekan permintaan minyak mentah.

Baca Juga: Trump Tak Puas dengan Proposal Iran, Negosiasi Akhiri Perang Terancam Mandek

Kilang-kilang di China bahkan hanya merencanakan pembelian sekitar 20 juta barel minyak dari Saudi pada Mei—volume terendah yang pernah tercatat—setelah harga yang ditetapkan mencapai level tertinggi.

Penyesuaian Jalur Ekspor dan Strategi Saudi

Perusahaan energi nasional Saudi Aramco dilaporkan mengalihkan ekspor minyak Arab Light melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah ini diambil akibat terganggunya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute utama distribusi energi global.

Para responden survei juga memperkirakan harga OSP untuk jenis minyak Saudi lainnya akan mengalami penurunan dalam kisaran yang sama, yakni US$5 hingga US$12 per barel.

Sebagai catatan, Saudi Aramco biasanya mengumumkan harga resmi minyak mentah setiap awal bulan, sekitar tanggal 5. Namun, perusahaan tersebut secara konsisten tidak memberikan komentar terkait kebijakan penetapan harga tersebut.