KONTAN.CO.ID - Arab Saudi mendapat dukungan dari Turki dan Pakistan di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman yang berpotensi mengganggu arus perdagangan dan ekspor energi dari salah satu produsen minyak terbesar dunia. Arab Saudi, Turki dan Pakistan akan menggelar pertemuan tingkat tinggi secara mendesak untuk membahas dukungan terhadap Riyadh berdasarkan perjanjian pertahanan bersama. Pertemuan tersebut digelar setelah serangkaian serangan Houthi yang menyasar wilayah Arab Saudi dan fasilitas terkait energi.
Baca Juga: Wakil PM Singapura: Dunia Tak Bisa Hadapi Geopolitik dengan Menutup Ekonomi Mengutip
Reuters, Houthi mengklaim telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah target di Arab Saudi pada Kamis (24/9/2026). Otoritas Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut. Arab Saudi sebelumnya mengeluarkan peringatan darurat untuk sejumlah wilayah, termasuk Mekkah, Jeddah dan Yanbu. Yanbu merupakan salah satu pelabuhan minyak utama Arab Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap kelancaran ekspor minyak Saudi dan lalu lintas kapal di kawasan Laut Merah. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman energi serta memperketat pasokan di pasar global. Arab Saudi perkuat pertahanan Menteri luar negeri Arab Saudi, Pakistan dan Turki telah melakukan pertemuan dalam kerangka Mecca Joint Defence Agreement. Ketiga negara mengecam serangan yang menargetkan Mekkah dan fasilitas sipil lainnya serta menegaskan hak Arab Saudi untuk mempertahankan diri. Ketiga negara juga membahas rencana pertemuan mendesak para kepala staf militer untuk membahas dukungan kepada Arab Saudi.
Baca Juga: New York Gugat Polymarket, Legalitas Pasar Prediksi Jadi Sengketa Perjanjian tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dipandang sebagai serangan terhadap seluruh pihak yang terlibat. Dukungan tersebut muncul ketika konflik yang lebih luas di Timur Tengah terus menekan pasar energi. Serangan Houthi telah mengganggu lalu lintas kapal di pintu masuk Laut Merah, sementara konflik di sekitar Selat Hormuz juga membatasi pergerakan kapal tanker. Sebelum perang dimulai, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar 20% ekspor minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global. Iran jaga jarak dari Houthi Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berupaya mengambil jarak dari tindakan Houthi. "Dalam hal ini, Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri," kata Pezeshkian dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran dan AS tengah menjajaki kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Baca Juga: Ini Daftar Tamu yang Hadiri Jamuan Makan Malam Kenegaraan Trump-Xi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran telah menyampaikan proposal kepada AS melalui perantara. Salah satu poin proposal tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz apabila sejumlah persyaratan Iran dipenuhi. Menurut Araqchi, dalam proposal tersebut permusuhan di seluruh front, termasuk Lebanon, akan dihentikan dalam tujuh hari. AS kemudian diminta mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, membuka dana Iran yang dibekukan serta menghapus sanksi minyak. "Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari terakhir," ujar Araqchi. Setelah itu, Iran dan AS akan memulai pembicaraan mengenai isu lain, termasuk program nuklir Iran. Risiko pasokan energi meningkat Konflik tersebut telah memberikan tekanan terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Houthi mengganggu lalu lintas kapal di kawasan Laut Merah, sedangkan Iran membatasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Sebelumnya, serangan milisi yang didukung Iran di Irak juga sempat membuat East-West Pipeline milik Arab Saudi tidak beroperasi. Sejumlah pakar keamanan masih memperdebatkan sejauh mana Iran mengendalikan atau mempengaruhi Houthi. Namun, sumber pemerintah Yaman, Iran dan kawasan mengatakan kemajuan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dilakukan dengan arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Baca Juga: Trump dan Xi Bertemu di Gedung Putih, Belum Ada Terobosan Dagang dan AI Bagi pasar energi global, meningkatnya serangan di sekitar jalur perdagangan tersebut memperbesar risiko gangguan pasokan dan distribusi minyak.
Kondisi ini dapat mempertahankan volatilitas harga minyak sekaligus meningkatkan biaya logistik dan energi bagi negara-negara yang bergantung pada impor. Di sisi lain, AS memperluas tekanan ekonominya terhadap Iran dengan menargetkan perusahaan di negara ketiga yang melakukan bisnis dengan perusahaan Iran melalui kebijakan yang dikenal sebagai secondary sanctions. Sejumlah maskapai Iran juga dilarang terbang ke negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab dan Oman, setelah sanksi baru AS diberlakukan. Kebijakan tersebut berpotensi semakin mengisolasi perekonomian Iran yang telah menghadapi tekanan akibat pembatasan perdagangan dan blokade pelabuhan.