KONTAN.CO.ID - RIYADH. Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran pada hari Kamis (24/9/2026), koalisi pimpinan Saudi di Yaman menyatakan rudal-rudal tersebut ditujukan ke Taif di wilayah barat Arab Saudi dan kawasan Yanbu di Laut Merah. Belakangan pada hari Kamis (24/9/2026), Houthi menyatakan telah melancarkan serangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai "target sensitif" di ibu kota Riyadh dan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan, kelompoknya menggunakan rudal balistik dan jelajah serta pesawat nirawak (drone) dalam kedua operasi tersebut, seraya menambahkan bahwa telah mencapai tujuan mereka.
Belum ada konfirmasi segera dari pihak Arab Saudi mengenai serangan terhadap Riyadh. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi tidak mengeluarkan peringatan darurat untuk Riyadh pada hari Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik Sekitar 3%, Terbakar Serangan Houthi di Arab Saudi Eskalasi ini mengancam kemampuan Arab Saudi untuk mengekspor minyak melalui Laut Merah di saat Selat Hormuz sedang terganggu dan jalur pipa East-West milik kerajaan tersebut baru saja kembali beroperasi setelah serangan drone awal bulan ini. Houthi menyatakan, blokade laut terhadap kerajaan tersebut pada bulan Juli, yang membuka medan pertempuran kedua dalam konflik AS-Iran. Tidak jelas apakah terdapat kerusakan atau korban jiwa di Taif maupun Yanbu—jalur alternatif utama bagi minyak Arab Saudi—setelah peringatan darurat luas dikeluarkan untuk wilayah-wilayah termasuk Jeddah dan kota suci Mekkah. Serangan terhadap Yanbu terjadi menyusul membaiknya prospek dimulainya kembali ekspor minyak dari terminal di wilayah tersebut. Sumber-sumber industri mengatakan Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui jalur pipa East-West, yang sempat ditutup pada 11 September menyusul serangan pesawat nirawak (drone) yang dituduhkan Riyadh sebagai ulah milisi Irak.
Baca Juga: Yield US Treasury Tenor 30 Tahun Capai Level Tertinggi Sejak 2004, Ini Penyebabnya Saree sebelumnya mengatakan pada hari Kamis bahwa kelompok tersebut telah menyerang lokasi militer Arab Saudi di provinsi Jazan yang berbatasan dengan Yaman. Belum ada konfirmasi segera dari pihak Arab Saudi. Saree menyatakan bahwa kelompok Houthi melancarkan serangan menggunakan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak, dengan sasaran yang ia sebut sebagai "ruang operasi, pusat komando dan kendali, serta gudang senjata" di Jazan, termasuk lokasi peluncuran rudal dan kamp militer. Otoritas pertahanan sipil Saudi mengeluarkan peringatan darurat terkait potensi bahaya di Jazan pada hari Rabu (23/9/2026), namun tidak mengeluarkan peringatan apa pun pada hari Kamis (24/9/2026). Otoritas pertahanan sipil juga memperingatkan adanya potensi bahaya di provinsi Tabuk, wilayah barat laut yang dekat dengan perbatasan Yordania—sebuah peringatan pertama bagi wilayah tersebut selama eskalasi terkini antara kerajaan Saudi dan kelompok Houthi bulan ini. Selama ini, kelompok Houthi sebagian besar menyerang wilayah selatan Arab Saudi. Mereka merebut seluruh pesisir barat Yaman dalam serangan kilat hampir dua minggu lalu, yang membawa mereka hingga ke tepi jalur perairan strategis Bab el-Mandeb di Laut Merah.
Baca Juga: Ekonomi Global Tertekan, Ini Peringatan IMF Pasukan pemerintah yang didukung Riyadh sebelumnya berhasil memukul mundur serangan malam hari oleh kelompok Houthi di jalur pasokan utama menuju Taiz—kota terbesar ketiga di Yaman—dari kota pelabuhan selatan Aden, tempat pemerintahan yang diakui secara internasional bermarkas, demikian menurut sumber-sumber pemerintah.
Kelompok Houthi terus memberikan tekanan di sepanjang jalur pegunungan yang curam dan berkelok yang dikenal sebagai Hejat al-Abd; jalur ini merupakan akses vital bagi pasukan pemerintah sekaligus satu-satunya rute bagi barang dan penduduk untuk mencapai Taiz maupun bepergian ke luar negeri. Penguasaan atas sebagian jalan tersebut dapat memungkinkan kelompok Houthi memperketat cengkeraman mereka di sekitar kota itu dan memberikan pukulan telak lainnya bagi pemerintah, yang telah berjuang keras untuk merebut kembali inisiatif sejak kehilangan wilayah pesisir barat. Pertempuran ini merupakan episode terbaru dalam perang saudara Yaman yang telah berlangsung selama 12 tahun, yang sebelumnya sebagian besar dalam kondisi stagnan sejak gencatan senjata tahun 2022. Kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014, yang memicu intervensi militer pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 700 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam pertempuran terbaru ini. Hampir 130.000 warga Yaman mengungsi di dalam negeri, sementara lebih dari 3.000 orang melarikan diri menggunakan perahu melintasi Laut Merah menuju Afrika.