JAKARTA. Sesuai jadwal, Raja Arab Saudi Salman Abdulaziz Al Saud beserta rombongannya akhirnya mendarat di Indonesia, Rabu (1/3) siang. Hingga hari ini (Jumat (3/3), Raja Salman dan rombongan sudah melakukan beragam kegiatan kenegaraan.Salah satu yang penting dan ditunggu-tunggu pemerintah adalah penandatanganan nota kesepahaman kerjasama dua negara. Istana Bogor pun menjadi saksi, sebanyak 11 nota kesepahaman pun ditandatangani perwakilan kedua negara.Mulai dari peningkatan pimpinan sidang komisi bersama, kerjasama budaya, pengembangan usaha kecil menengah antar negara, pengembangan kesehatan, teknologi hingga masalah haji.
Terhantam Minyak Wajar saja, sudah dua tahun ini bisnis minyak lesu darah akibat harga yang ambrol. Padahal minyak adalah motor utama penggerak ekonomi Arab Saudi. Harga minyak tahun 2015 rontok ke level US$ 49,49 per barel, padahal tahun sebelumnya sempat menembus di atas US$ 100 per barel. Tak ayal, perekonomian Arab Saudi pun terhantam dan hanya bisa tumbuh 3,48%. Tahun 2016 pun semakin sengsara karena rata-rata harga minyak hanya US$ 40,76 per barrel. Arab Saudi mendapatkan pertumbuhan ekonomi 1,4%. Lesunya bisnis minyak telah mendorong pemerintah Arab Saudi mengetatkan ikat pinggang. Gaji pegawai pemerintah dipotong dan subsidi juga dikurangi. Kendati demikian, defisit tetap membengkak mencapai 15 persen PDB. Utang pemerintah pun terus menumpuk menjadi 5,9 persen PDB. Penerimaan negara dari minyak anjlok, anggaran negara minus hingga 15% mencapai US$ 98 miliar tahun lalu dan tahun ini diperkirakan US$ 87 miliar atau mencapai Rp 1.200 trilun. "Arab Saudi memang masih kaya, tapi dengan minyak yang masih lemah, mereka harus mencari pelampung penyelamat dalam rangka menahan Arab Saudi dari turbulensi, mencari pembeli tetap dari minyak mereka dalam jangka panjang," kata Pengamat dan Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng kepada Tribunnews.com. Nah, Indonesia adalah tujuan tepat bagi ekspansi pasar Arab Saudi. Sebagai negara yang masuk kelompok G20 dan pertumbuhan ekonomi tiap tahun di atas 5% (kecuali 2015), kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia selalu meningkat. Disisi lain, produksi dalam negeri tak mampu mencukupi kebutuhan BBM domestik. Kebutuhan minyak mentah di Indonesia diperkirakan 1,5 juta barel per hari, tapi produksi dari dalam negeri hanya sekitar separuhnya. Produksi minyak mentah pun terus menyusut dari tahun ke tahun.
Sumber: Kementerian ESDM
Sumber: Kementerian ESDM
Obat ekonomi Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro pun sependapat, lawatan Arab Saudi ke sejumlah negara di Asia, termasuk ke Indonesia adalah mencari obat ekonomi. Selama ini, Arab Saudi lebih banyak menjual minyak ke Eropa dan Amerika Serikat, tapi dengan pelambatan ekonomi di Eropa dan shale oil di AS yang lebih murah, Asia adalah obat. "AS yang menjadi pasar minyak mentah bagi Arab Saudi kini sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri," kata Komaidi seperti dikutip Kompas.com. Di sisi lain belakangan ini impor minyak Indonesia dari Arab Saudi juga melemah. Sebagai raja minyak, tentu Arab Saudi ingin meningkatkan penjualan minyak ke Indonesia. "Mungkin akan ada relokasi. Yang selama ini minyak mentah dibawa ke AS, akan dibawa ke Indonesia," imbuh Komaidi.
Sumber: Kementerian ESDM Namun, apapun yang terlihat selama tiga hari ini, Presiden Joko Widodo berharap, kerjasama Indonesia dan Arab Saudi semakin erat pada mendatang. Indonesia diharapkan bisa menjadi mitra strategis bagi Arab Saudi pada tahun yang akan datang. "Kunjungan Sri Baginda Raja ini menjadi titik tolak bagi peningkatan hubungan Indonesia dan Arab Saudi yang dipersatukan oleh Islam oleh persaudaraan dan hubungan yang saling menguntungkan," kata Jokowi, di Istana Bogor, Rabu (1/3). Menurut Jokowi, Arab Saudi adalah mitra terpenting di kawasan Timur Tengah, baik hubungan antara masyarakat maupun hubungan ekonomi dan politik. Jokowi yakin Indonesia dapat jadi mitra strategis dalam visi 2030 Arab Saudi melalui kerjasama atara sesama negara muslim. Meski tak menjanjikan angka kongkrit, Raja Salman juga mengutarakan hal yang sama. Saat berpidato singkat di DPR, Raja Salman juga mengharapkan, kunjungan kenegaraan ini bisa meningkatkan kerjasama dua negara. "Ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kerja sama di seluruh bidang yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi kedua bangsa kita yang bersahabat" kata Salman.