Arab Saudi Siapkan Jalur Baru Ekspor Minyak, Kurangi Ketergantungan Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arab Saudi tengah mempertimbangkan untuk memperluas kapasitas jaringan pipa minyak mentah yang menghubungkan wilayah timur kerajaan dengan pantai barat di Laut Merah. Langkah ini bertujuan memperkuat jalur ekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.

Mengutip Reuters, Selasa (7/7/2026), rencana tersebut muncul setelah konflik dengan Iran yang pecah pada Februari lalu menyebabkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz sempat terhenti. Kondisi tersebut menjadikan pipa East-West sebagai infrastruktur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi.

Saat ini, pipa East-West yang dibangun pada awal 1980-an memiliki kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari (bph) menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Sekitar 2 juta bph digunakan untuk memasok kilang di pantai barat, sementara sekitar 5 juta bph dialokasikan untuk ekspor.

Jajaki Kerja Sama dengan Negara Tetangga


Lima sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Arab Saudi sedang melakukan pembicaraan awal dengan beberapa negara tetangga terkait kemungkinan peningkatan kapasitas pipa hingga 2 juta barel per hari.

Baca Juga: SpaceX Masuk Nasdaq 100, Berpotensi Serap Dana Pasif US$ 4,3 Miliar

Belum dapat dipastikan apakah peningkatan kapasitas itu akan dilakukan melalui modernisasi jaringan pipa yang sudah ada atau pembangunan jalur pipa baru. Salah satu sumber menyebutkan proyek tersebut juga dapat mencakup pembangunan pipa kedua berukuran lebih kecil yang dikhususkan untuk mengangkut produk minyak olahan.

Ekspansi ini dinilai penting karena sejumlah negara Teluk masih belum memiliki jalur alternatif yang dapat menghindari Selat Hormuz. Kuwait, Bahrain, dan Qatar masih bergantung pada jalur tersebut, sementara pipa ekspor Irak menuju Turki masih menghadapi berbagai kendala akibat sengketa dan gangguan operasional sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Chief Executive Officer (CEO) Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf Al-Sabah, mengonfirmasi adanya pembahasan tersebut dalam Atlantic Council Global Energy Forum bulan lalu.

"Kami sedang berdiskusi dengan saudara-saudara kami di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk melihat bagaimana memperluas sistem pipa yang mereka miliki agar dapat mengakomodasi minyak mentah dari Kuwait," ujarnya.

Dua sumber menyebutkan kapasitas tambahan yang dibahas berkisar antara 1 juta hingga 2 juta barel per hari. Selain minyak mentah, pengangkutan produk hasil kilang juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.

Namun, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS. Selain itu, Arab Saudi juga perlu melakukan penyesuaian terhadap mekanisme penetapan harga minyak mentahnya.

Dampak Konflik Iran terhadap Pasokan Minyak

Blokade Selat Hormuz oleh Iran selama konflik menyebabkan produsen minyak di kawasan Teluk harus menghentikan produksi hingga sekitar 12 juta barel per hari. Kondisi tersebut sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Meskipun arus pengiriman minyak mulai pulih sebagian setelah tercapainya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran bulan lalu, volume ekspor masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.

Produksi minyak Irak, misalnya, turun drastis dari sekitar 4,3 juta barel per hari menjadi kurang dari 1,5 juta barel per hari pada Mei. Kuwait juga sempat menetapkan status force majeure pada Maret, sementara kilang Sitra di Bahrain beberapa kali menjadi sasaran serangan rudal Iran.

Managing Partner Hardcastle Advisory yang berbasis di London, Zaid Belbagi, menilai pembahasan pembangunan koridor pipa baru mencerminkan perubahan strategi negara-negara Teluk.

"Pembicaraan terbaru mengenai koridor pipa baru yang melibatkan Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar mencerminkan realitas strategis yang lebih luas. Konflik tersebut membuat negara-negara di kawasan semakin menyadari risiko jika hanya bergantung pada Selat Hormuz," katanya.

Qatar dan UEA Siapkan Jalur Alternatif

Sementara itu, Qatar yang sebagian besar mengekspor gas alam cair (LNG) juga tengah mengevaluasi sejumlah alternatif jalur ekspor, termasuk melalui wilayah Arab Saudi. Namun, negara tersebut menghadapi tantangan teknis yang lebih besar dibandingkan negara Teluk lainnya.

Baca Juga: Indonesia Dikabarkan Akan Beli Rudal BrahMos dari India Senilai US$630 Juta

Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) menjadi satu-satunya negara Teluk selain Arab Saudi yang telah memiliki kapasitas signifikan untuk mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz.

UEA diketahui telah menyelesaikan sekitar separuh pembangunan pipa West-East baru yang nantinya akan menggandakan kapasitas pengiriman minyak menuju Fujairah saat mulai beroperasi tahun depan. Saat ini, pipa Abu Dhabi yang telah beroperasi mampu mengangkut hingga 1,8 juta barel minyak per hari.

Seorang sumber industri menilai apabila Arab Saudi benar-benar memperluas kapasitas pipanya, persaingan dengan UEA dapat memasuki babak baru.

"Ekspansi oleh Arab Saudi mengindikasikan bahwa setelah perang, fase berikutnya dari persaingan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kemungkinan akan menjadi perlombaan meningkatkan produksi minyak, yang pada akhirnya juga berpotensi memicu persaingan penurunan harga," ujarnya.