Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Lebih Awal, Indonesia Kapan?



KONTAN.CO.ID - Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprediksi, awal bulan puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah (H) berpotensi berbeda.

Sebelumnya, Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan itu berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.


Sementara itu, Pemerintah Indonesia belum menetapkan kapan awal puasa 2026.

Kementerian Agama (Kemenag) akan menetapkan awal Ramadhan 1447 H melalui sidang isbat yang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Sidang isbat akan memaparkan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi atau metode hisab.

Setelah itu, disampaikan pula laporan hasil rukyatul hilal di 37 titik yang tersebar di Indonesia.

Selanjutnya, Kemenag dan stakeholder terkait akan mengambil keputusan untuk menentukan 1 Ramadhan 1447 H.

Lantas, mengapa BRIN memprediksi awal puasa tahun ini berbeda?

Baca Juga: Waspada Macet Lebaran! Pemerintah Terapkan WFA, Ini Detailnya

Awal puasa Ramadhan 1447 H versi BRIN

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menerangkan, potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 H terjadi karena adanya perbedaan posisi hilal di Indonesia dan global.

"Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadhan 144 H. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan 'hilal lokal' dan 'hilal global'," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kemenag dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia diperkirakan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Hal ini karena pada saat sidang isbat digelar, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria baru Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria ini mensyaratkan posisi hilal memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

"Pada saat Maghrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadhan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026," kata Thomas.

Sementara itu, menurut kriteria Turkiye, posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

Ini artinya, penetapan menggunakan kriteria Turkiye menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Baca Juga: Beda Awal Puasa 2026: Muhammadiyah, BRIN & Kemenag, Siapa Duluan?

Thomas mengatakan, kriteria ini disebut sebagai "hilal global" yang juga digunakan oleh Muhammadiyah untuk menetapkan 1 Ramadhan 1447 H.

"Muhammadiyah menggunakan 'hilal global', yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan," terang Thomas.

Dia menjelaskan, pada 17 Februari 2026 posisi hilal atau bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadhan ditetapkan 18 Februari 2026.