KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Arab Saudi dan pasokan minyak dunia. Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, memerintahkan karyawannya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh pada Kamis (22/10/2026). Enam sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa instruksi evakuasi itu dikeluarkan ketika pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran semakin intensif. Perusahaan belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai kebijakan tersebut. Evakuasi ini disebut berpotensi menjadi yang pertama dilakukan sejak perang Iran dimulai.
Namun, alasan pasti di balik perintah evakuasi kantor pusat Aramco tersebut belum diketahui. Konflik terbaru terjadi setelah Houthi melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk terhadap fasilitas perusahaan dan sejumlah bandara. Ketegangan juga meningkat setelah kelompok tersebut bergerak menuju Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di pintu masuk Laut Merah. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik penting dalam perdagangan maritim global karena menjadi jalur penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden. Gangguan di kawasan ini berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan komoditas internasional.
Baca Juga: Rencana Merger SpaceX-Tesla US$ 3,5 Triliun Bikin Resah, Ini Pemicunya Harga Minyak Brent Melonjak di Tengah Konflik Timur Tengah
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Mengutip data LSEG, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 3,06 atau 2,81% menjadi US$ 111,88 per barel pada pukul 11.04 GMT, Kamis (22/10/2026). Harga Brent bahkan sempat menyentuh US$ 112,55 per barel, level tertinggi sejak 18 Mei 2026. Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan eksportir utama dunia. Di pasar saham, indeks acuan Arab Saudi turun 2,5% pada perdagangan Kamis setelah kabar mengenai evakuasi kantor pusat Aramco mencuat, berdasarkan data LSEG.
Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Yanbu
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompok tersebut telah melancarkan serangan terhadap fasilitas Aramco di Yanbu, kota di pesisir Laut Merah, serta Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh. Meski demikian, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas tersebut.
Baca Juga: Prada Catat Pertumbuhan Pendapatan 1% pada Kuartal III 2026 Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sejumlah drone di wilayah Riyadh dan Madinah pada Kamis. Madinah merupakan salah satu kota suci umat Islam yang terletak tidak jauh dari Yanbu. Pertempuran yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir mengakhiri gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022. Kesepakatan tersebut sebelumnya secara umum berhasil menghentikan serangan lintas perbatasan antara kedua pihak. Konflik ini juga membuka front baru di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Pada awal Oktober, serangan Houthi dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada kantor pusat Aramco. Serangan tersebut memicu kebakaran yang menjalar ke beberapa lantai gedung. Arab Saudi kemudian merespons serangan Houthi dengan melancarkan serangkaian serangan terhadap lokasi peluncur rudal. Pemerintah kerajaan juga menegaskan komitmennya untuk melindungi wilayah negara dan menyatakan telah mencegat banyak rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut. Saree menyebut serangan Arab Saudi ke Yaman telah menewaskan dan melukai 562 orang sejak pertengahan Juli. Pada periode tersebut, Houthi memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah itu kemudian memicu peringatan dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyatakan akan merespons secara tegas. Secara terpisah, Saree mengatakan pada Kamis bahwa kelompoknya tengah melakukan penyelamatan terhadap sebuah kapal yang membawa 14 warga negara India. Kapal tersebut, menurutnya, diserang di dekat Pulau Jabal Zuqar, tidak jauh dari selat strategis yang berada di kawasan Laut Merah. Pulau tersebut merupakan salah satu wilayah yang direbut Houthi dalam pergerakan mereka pada September. Saree menyalahkan Arab Saudi atas serangan terhadap kapal itu, tetapi otoritas Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Baca Juga: IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin Serangan Bandara Saudi Tewaskan Dua Orang
Ketegangan juga meningkat setelah serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, pusat industri minyak Arab Saudi yang berdekatan dengan Dhahran, pada Rabu (21/10/2026) malam. Serangan tersebut menewaskan dua orang, yakni seorang warga negara Arab Saudi dan seorang warga negara India. Delapan orang lainnya dilaporkan terluka.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi pada Kamis menyatakan operasional bandara telah kembali berjalan dan lalu lintas penerbangan telah normal. Sebelumnya, Houthi telah memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak menggunakan wilayah udara Arab Saudi. Peringatan itu muncul setelah kelompok tersebut berulang kali menargetkan bandara di negara tersebut, termasuk bandara internasional di Riyadh dan Bandara Abha di wilayah selatan. Rangkaian serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi ini menambah risiko terhadap stabilitas kawasan, terutama jika konflik meluas ke jalur pelayaran utama dan fasilitas produksi maupun distribusi minyak. Bagi pasar energi global, perkembangan tersebut menjadi perhatian karena gangguan berkepanjangan di Timur Tengah dapat meningkatkan ketidakpastian pasokan, mendorong volatilitas harga minyak, serta menambah tekanan biaya energi bagi negara-negara pengimpor.