Aramco Peringatkan Dampak “Katastropik” Jika Selat Hormuz Terus Terganggu



KONTAN.CO.ID - Raksasa energi Arab Saudi Saudi Aramco memperingatkan akan adanya konsekuensi “katastropik” bagi pasar minyak global jika konflik Iran terus mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

CEO Aramco Amin Nasser mengatakan gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pengiriman dan asuransi, tetapi juga berpotensi memicu efek domino ke berbagai industri lain seperti penerbangan, pertanian, otomotif, hingga manufaktur.

Baca Juga: Maskapai Dunia Naikkan Tarif Tiket Saat Biaya Bahan Bakar Melonjak


Ia menekankan bahwa pasokan minyak global saat ini berada dalam kondisi yang cukup rentan karena tingkat persediaan minyak dunia berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir.

“Konsekuensinya akan sangat katastropik bagi pasar minyak dunia jika gangguan ini terus berlangsung. Semakin lama gangguan terjadi, dampaknya terhadap ekonomi global akan semakin besar,” ujar Nasser dalam paparan kinerja perusahaan, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, krisis ini berpotensi mempercepat penurunan cadangan minyak global sehingga pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi.

Di sisi lain, Nasser juga mengungkapkan bahwa serangan yang terjadi pekan lalu sempat memicu kebakaran kecil di kilang Ras Tanura milik Aramco, fasilitas pengolahan minyak terbesar perusahaan di dalam negeri.

Baca Juga: Layanan Kereta Penumpang Korea Utara dan China Akan Dilanjutkan Pekan Ini

Namun kebakaran tersebut berhasil dipadamkan dengan cepat dan saat ini kilang tengah dalam proses kembali beroperasi.

Sementara itu, pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” dikirim dari Timur Tengah jika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut.

Pernyataan tersebut memicu respons dari Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan bahwa Washington akan memberikan respons yang jauh lebih keras jika Iran berupaya memblokir ekspor minyak dari kawasan penghasil energi utama tersebut.

Komentar Nasser muncul setelah Aramco melaporkan laba tahunan turun 12%, terutama akibat melemahnya harga minyak mentah.

Perusahaan juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) hingga US$3 miliar, yang menjadi program buyback pertama dalam sejarah perusahaan.