KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Archipelago International mencatatkan tingkat okupansi hotel yang relatif stabil sepanjang kuartal III 2026. Di tengah dinamika permintaan industri perhotelan, perusahaan mampu mempertahankan tingkat keterisian kamar pada kisaran 70%. CEO Archipelago International John Flood mengatakan, tingkat okupansi pada hotel-hotel dalam portofolio perusahaan yang memiliki basis perbandingan setara (
comparable hotels) mencapai sekitar 70,2% pada kuartal III 2026. "Tingkat okupansi pada Kuartal III 2026 relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat okupansi tercatat sekitar 70,2%, atau hanya berbeda kurang dari satu poin persentase dibandingkan kuartal III 2025," ujar John kepada
Kontan.co.id, Rabu (4/11).
Baca Juga: Archipelago Bidik Okupansi 80% pada Periode Libur Nataru 2026, Intip Strateginya John menjelaskan, kondisi pasar perhotelan secara umum menunjukkan dinamika permintaan yang beragam. Permintaan cenderung lebih tinggi selama periode liburan sekolah dan di sejumlah destinasi wisata.
Dari sisi sumber pemesanan, segmen wisatawan yang melakukan reservasi secara digital dan individual (
transient demand) masih menjadi kontributor utama bisnis perusahaan. Pada kuartal III 2026, kanal pemesanan melalui platform e-commerce atau
online travel agent (OTA) menyumbang sekitar 37% terhadap total malam kamar terjual
(room nights). Selanjutnya, pemesanan individu melalui kontrak berkontribusi sekitar 29%, disusul pemesanan langsung
(direct booking) sebesar 18% dan segmen grup sekitar 12%. John mengungkapkan, terdapat sejumlah perubahan pola perjalanan wisatawan dalam beberapa bulan terakhir yang turut memengaruhi strategi pengelolaan bisnis hotel.
Pertama, durasi menginap tamu cenderung lebih singkat. Rata-rata lama menginap tamu yang melakukan pemesanan melalui situs resmi Archipelago tercatat sekitar 1,7 malam.
Kedua, wisatawan semakin sering melakukan pemesanan mendekati tanggal kedatangan.
Ketiga, permintaan cenderung terkonsentrasi pada malam Jumat dan Sabtu. “Untuk mengoptimalkan pola tersebut, kami mengembangkan berbagai paket promosi yang mendorong tamu memperpanjang masa menginap hingga hari Minggu,” ungkapnya.
Dari sisi pengelolaan harga, Archipelago mengandalkan sistem manajemen pendapatan (
revenue management system) bernama FluxRate. Sistem tersebut menetapkan tarif kamar secara harian berdasarkan masing-masing hotel dan tanggal menginap. Archipelago juga mengembangkan berbagai paket menginap untuk menjangkau segmen wisatawan yang berbeda. Beberapa program yang telah berjalan antara lain Anyer Sunday Escape, paket liburan keluarga di Puncak, Royal Malioboro Stay di Yogyakarta, program Stay 3 Pay 2 di Aston Kupang, serta paket pengalaman wisata di Bali. Sementara itu, untuk mendorong pemesanan langsung, perusahaan mulai menguji penawaran nilai tambah melalui situs resmi hotel. Bentuk penawarannya meliputi sarapan gratis, kredit makanan dan minuman
(food and beverage credit), fasilitas late check-out, serta peningkatan tipe kamar
(room upgrade), sesuai ketersediaan. Di sisi lain, kerja sama dengan online travel agent (OTA) tetap dipertahankan sebagai bagian dari strategi distribusi. Archipelago memanfaatkan program peningkatan visibilitas dan promosi yang lebih terarah, terutama pada tanggal-tanggal dengan permintaan relatif rendah. Perusahaan juga memperkuat distribusi digital melalui kemitraan dengan Google. Pada Agustus 2026, Archipelago memperoleh sertifikasi sebagai mitra konektivitas hotel Google (Google Hotel Connectivity Partner). Melalui kemitraan tersebut, tarif kamar dari situs resmi hotel Archipelago dapat ditampilkan dalam hasil pencarian Google tanpa dikenakan biaya per klik (
cost per click). Langkah ini menjadi salah satu upaya perusahaan memperluas jangkauan pemesanan langsung.
Adapun untuk periode kuartal IV 2026, Archipelago melihat peluang pertumbuhan permintaan seiring datangnya musim liburan akhir tahun. Perusahaan menargetkan tingkat okupansi sebesar 80% selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), lebih tinggi dibandingkan pencapaian sekitar 75,5% pada Nataru tahun sebelumnya. “Pada tahun ini, Hari Natal dan Tahun Baru sama-sama jatuh pada hari Jumat, sehingga menciptakan dua periode libur panjang berturut-turut. Kami memproyeksikan tingkat okupansi pada malam-malam puncak, khususnya 25 dan 26 Desember serta malam pergantian tahun, berada pada kisaran 75%–79%,” tandasnya.
Baca Juga: DPR Minta Kebutuhan Listrik Domestik Didahulukan Sebelum Melakukan Ekspor Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News