KONTAN.CO.ID - Pelatih Argentina Lionel Scaloni menilai timnya selalu mampu mengeluarkan permainan terbaik ketika berada dalam tekanan. Hal itu kembali dibuktikan saat juara bertahan tersebut melakukan
comeback dramatis untuk mengalahkan Inggris 2-1 dan melaju ke final Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Tuchel: Inggris Bukan Dikutuk, Kekalahan dari Argentina Murni Soal Sepak Bola Dalam laga semifinal yang berlangsung pada Rabu (15/7/2026), Argentina sempat tertinggal 0-1 sebelum menyamakan kedudukan lima menit menjelang waktu normal berakhir. Tim Tango kemudian mencetak gol kemenangan pada masa injury time untuk memastikan tiket ke partai puncak. Kemenangan tersebut mengantarkan Argentina menghadapi Spanyol pada final Piala Dunia yang akan digelar di New York, Minggu (19/7). Keberhasilan membalikkan keadaan atas Inggris melanjutkan tren impresif Argentina sepanjang fase gugur.
Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Bikin Was-Was, Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Kamis (16/7) Sebelumnya, mereka harus bekerja keras menyingkirkan Tanjung Verde (Cape Verde) dan Swiss melalui babak perpanjangan waktu, serta bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Mesir dengan skor 3-2. "Saya benar-benar merasa tim ini memainkan sepak bola terbaiknya ketika berada di bawah tekanan," kata Scaloni dalam konferensi pers usai pertandingan. "Ketika kami sedang kesulitan dan lawan sedikit lengah, kami mencium peluang dan langsung menyerang dengan semua kemampuan yang kami miliki. Itulah karakter yang saya lihat dari tim ini," ujarnya. Scaloni mengaku bangga karena para pemainnya terus berjuang hingga peluit akhir dibunyikan. "Saya senang karena tim bertarung sampai akhir. Itu adalah hal yang paling penting bagi saya. Bahkan jika kami harus tersingkir, kami akan pulang dengan keyakinan bahwa kami telah memberikan segalanya di lapangan," katanya.
Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Naikkan Suku Bunga ke 2,75%, Sesuai Ekspektasi Pasar Menurut Scaloni, karakter sesungguhnya Argentina mulai terlihat setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul 1-0 pada awal babak kedua. "Setelah mereka mencetak gol, kami menunjukkan semua nilai yang ingin kami hadirkan dalam sepak bola. Sepak bola bukan hanya soal taktik, strategi, atau bermain indah. Semua yang kami yakini tercermin dalam 40 menit terakhir pertandingan," ujarnya. Scaloni juga menyebut skuadnya sebagai tim yang keras kepala, namun dalam makna yang positif. "Mereka adalah para petarung. Mereka tumbuh di lingkungan yang membuat mereka tidak takut pada apa pun. Mereka selalu bersaing dan selalu dituntut menjadi yang terbaik. Tanggung jawab tidak pernah membebani mereka," katanya. Ia menambahkan, ketika pertandingan memasuki 15 hingga 25 menit terakhir, para pemain justru semakin percaya diri untuk meminta bola.
Baca Juga: CEO JPMorgan: AI Canggih Berisiko Tinggi, Akses Harus Dibatasi "Tidak ada yang berpikir, 'Bagaimana kalau saya melakukan kesalahan dan kami kalah di semifinal Piala Dunia?' Yang mereka pikirkan hanyalah bermain sepak bola seperti yang telah mereka lakukan sepanjang hidup mereka." "Mereka seperti sebuah keluarga. Mereka tidak pernah menyerah mengejar satu bola pun dan terus berjuang hingga detik terakhir." Menatap partai final melawan Spanyol, Scaloni menegaskan Argentina akan kembali mengerahkan seluruh kemampuan demi mempertahankan gelar juara dunia. "Tentu kami akan mencoba memenangkan final dan melakukan segala yang kami bisa. Tetapi, sejujurnya, apa lagi yang harus dibuktikan oleh tim ini?" tutup Scaloni.