KONTAN.CO.ID - BUENOS AIRES. Suasana di jalan-jalan Buenos Aires perlahan kembali normal pada Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat setelah tim nasional Argentina gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia usai kalah dari Spanyol di partai final. Warga Argentina yang mengenakan atribut berwarna biru dan putih tampak meninggalkan bar serta lokasi nonton bersama dengan perasaan campur aduk. Kekalahan tersebut mengakhiri harapan Argentina untuk menjadi juara dunia dua kali berturut-turut. Spanyol memastikan kemenangan 1-0 melalui gol yang tercipta pada babak perpanjangan waktu. Hasil tersebut sekaligus menggagalkan ambisi Argentina untuk mengulang kesuksesan mereka di Piala Dunia 2022 di Qatar dan meraih gelar keempat dalam sejarah.
"Saya mengakui ketika sebuah tim bermain dengan baik, dan Spanyol bermain sangat baik," ujar Fernanda Ramayon (39), seorang psikolog yang menyaksikan pertandingan bersama anak-anak dan suaminya di sebuah restoran di Buenos Aires. "Saya rasa sudah merupakan pencapaian besar bisa mencapai final. Bagaimanapun, saya tetap senang," lanjutnya.
Baca Juga: Spanyol Naik Takhta Dunia Setelah Bekuk Argentina pada Final Piala Dunia 2026 Sejak awal turnamen, banyak warga Argentina sebenarnya tidak terlalu berekspektasi tinggi. Mereka ragu negaranya mampu mencatatkan prestasi langka dengan menjuarai Piala Dunia dua kali beruntun, sesuatu yang sebelumnya hanya mampu dilakukan Italia pada 1934 dan 1938 serta Brasil pada 1958 dan 1962. Namun, optimisme dan ketegangan meningkat seiring perjalanan tim yang dipimpin Lionel Messi. Argentina berhasil melewati fase gugur dengan kemenangan dramatis atas Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss. Sejumlah pendukung Argentina mengaku kemenangan di semifinal atas Inggris sudah cukup memberikan kepuasan tersendiri. Laga tersebut memiliki makna simbolis yang kuat bagi masyarakat Argentina karena dibayangi sejarah panjang rivalitas kedua negara. Pertandingan melawan Inggris mengingatkan publik pada kemenangan Inggris di Piala Dunia 1966, gol kontroversial "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada 1986, hingga perang Kepulauan Falkland pada 1982 yang di Argentina dikenal sebagai Islas Malvinas. Usai menang 2-1 atas Inggris, para pemain Argentina bahkan membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina". "Tentu saja rasanya sangat pahit, tetapi setidaknya kami masih berhasil mengalahkan Inggris. Messi memang belum pernah merasakan itu sebelumnya," kata Ornella Godoy, perempuan berusia 24 tahun yang bekerja di bidang periklanan, saat pulang dari menyaksikan pertandingan bersama teman-temannya di luar sebuah bar. Messi sebelumnya memang belum pernah menghadapi Inggris di ajang internasional.
Akhir Sebuah Mimpi
"Ini adalah akhir dari sebuah mimpi," demikian judul yang ditampilkan surat kabar terbesar Argentina, La Nacion, di situsnya setelah pertandingan berakhir, disertai foto Lionel Messi yang tampak kecewa.
Baca Juga: Menteri Singapura Mundur usai Dinilai Langgar Standar Etika Pejabat Publik Meski gagal membawa pulang trofi, ribuan warga Argentina tetap memadati kawasan Monumen Obelisk di pusat kota Buenos Aires. Kembang api pun menghiasi langit ibu kota.
Namun, suasananya jauh berbeda dibandingkan perayaan pada 2022. Saat itu, lebih dari satu juta orang memenuhi pusat kota Buenos Aires pada malam kemenangan Argentina di Piala Dunia. Dua hari kemudian, ketika tim nasional kembali ke tanah air, jutaan orang lainnya memadati jalan-jalan untuk menyambut para pemain dalam pesta rakyat terbesar dalam sejarah negara tersebut. Besarnya antusiasme bahkan membuat Messi dan rekan-rekannya harus diterbangkan menggunakan helikopter untuk bergabung dalam perayaan. Banyak pihak menduga turnamen kali ini akan menjadi Piala Dunia terakhir bagi Messi, yang genap berusia 39 tahun bulan lalu. Meski demikian, sebagian pendukung tetap optimistis terhadap masa depan tim nasional Argentina. "Kami tetap percaya kepada para pemain yang masih ada," ujar Godoy.