Argha Karya Prima (AKPI) Incar Pendapatan Rp 2,8 Triliun Tahun 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) menargetkan bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 2,8 triliun di tahun 2023. Namun untuk target laba bersih belum dapat diinformasikan lantaran masih adanya ketidakpastian dari kondisi pasar yang masih relatif dinamis 

Direktur Keuangan AKPI Jimmy Tjahjono mengatakan meski masih terbayang ketidakpastian pasar tersebut, perseroan melihat prospek penjualan produk kemasan plastik masih akan optimis meski ada tantangan yang berat. 

“Prospek penjualan di semester II-2033 diperkirakan masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat, harga jual yang kompetitif dan demand dari konsumen yang relatif masih stagnan,” kata Jimmy kepada Kontan.co.id, Minggu (9/7). 


Baca Juga: Sambut Tahun 2023, Argha Karya Prima (AKPI) Anggarkan Capex Hingga 80 Miliar

Untuk diketahui, AKPI bergerak dalam bidang industri dan pemasaran barang-barang dari plastik. Produk yang dihasilkan dari plastik tersebut termasuk jenis film Polypropylene dan Polyethylene Terepthalate.

Saat ini pabrik yang dimiliki AKPI memiliki total kapasitas produksi terpasang mencapai 147.000 ton per tahun.

Tahun ini pun perseroan tidak akan menaikan kapasitas produksi sehingga produksi yang ditargetkan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Meski tak tambah kapasitas, tahun ini perseroan tetap mengganggarkan belanja modal atau capex sebesar Rp 80 miliar. Di mana sampai semester I-2023 realisasinya sekitar 35%. Dia bilang, penggunaan dana itu rata-rata untuk pemeliharaan mesin-mesin produksi yang berada di pabrik Citeureup, Bogor. 

 
AKPI Chart by TradingView

AKPI mempunyai dua merek dagang yaitu ARLENE dan ARETA yang digunakan untuk memasarkan produk plastik filmnya secara luas baik di dalam maupun luar negeri. ARLENE adalah merek dagang untuk plastik film jenis BOPP, sementara ARETA adalah merek dagang untuk jenis plastik film BOPET.

“Produk yang dihasilkan dapat dibedakan atas BOPP dan BOPET dan masing-masing terdiri dari produk premium dan komoditi. Khusus produk premium akan memberikan kontribusi yang lebih besar dari sisi pendapatan dan margin perusahaan,” tutup  dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .