KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi memulai pelaksanaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt peak (GWp). Proyek ambisius yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun ini diharapkan dapat memacu pengembangan industri PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS). Sejumlah emiten telah mengambil langkah ekspansi untuk menangkap peluang tersebut. Aksi terbaru dilakukan oleh PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Emiten yang terafiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) ini secara resmi melebarkan bisnisnya ke energi berbasis matahari. ARKO melalui anak usahanya, PT Arkora Tenaga Matahari mengakuisisi 99,9% saham milik PT Endorshine Energy Solutions. Melalui akuisisi ini, ARKO mengoperasikan dua PLTS dengan total kapasitas 21,3 Megawatt peak (MWp), terdiri dari PLTS di Bintan berkapasitas 10,27 MWp dan di Batam berkapasitas 11,05 MWp.
Baca Juga: Telkomsat Perkuat Konektivitas Satelit untuk Industri Maritim Masih di pekan ini, ARKO langsung tancap gas menambah portofolio proyek PLTS melalui Perjanjian Sewa Operasional dengan PT Batamindo Investment Cakrawal, PT Bintan Inti Industrial Estate, dan PT Bintan Resort Cakrawala. Melalui perjanjian operational lease tersebut, ARKO akan membangun tiga proyek PLTS baru yang terintegrasi dengan BESS. ARKO menggarap proyek tersebut melalui anak usahanya, PT Endorshine Energi Matahari. Tiga proyek PLTS ini memiliki total kapasitas 34 MWp yang dilengkapi dengan BESS 28,3 Megawatt hour (MWh). BESS memungkinkan energi surya yang dihasilkan pada siang hari disimpan dan didistribusikan sesuai kebutuhan, termasuk pada malam hari atau saat cuaca mendung, sehingga pasokan listrik tetap stabil dan andal.
Head of Investor Relations Arkora Hydro, Nicko Yosafat mengungkapkan bahwa ekspansi ARKO ke bisnis PLTS mempertimbangkan potensi pemanfaatan energi matahari yang sangat besar di Indonesia. Potensinya mencapai sekitar 3.200 GW. Hanya saja, utilisasinya sejauh ini masih minim, baru sekitar 1,1 GW atau hanya setara dengan 0,03% dari total potensi yang ada. "Kami melihat kebutuhan listrik Indonesia masih akan terus bertumbuh. Memanfaatkan satu jenis EBT (Energi Baru dan Terbarukan) saja tidak cukup. Jadi kami merambah ke EBT selain hidro. Pembangunan PLTS juga relatif lebih cepat dan lebih murah ketimbang proyek EBT lainnya," kata Nicko kepada Kontan.co.id, Kamis (27/8/2026). Nicko belum membeberkan secara rinci sejauh mana potensi partisipasi ARKO dalam proyek PLTS 100 GWp. Nicko hanya menyatakan bahwa target pemerintah mencapai kapasitas PLTS 100 GWp akan memberi katalis positif terhadap ekosistem energi surya di dalam negeri, sekaligus menjadi validasi kuat atas langkah diversifikasi ARKO ke bisnis PLTS. "Momentum kebijakan dan investasi sebesar ini memperkuat keyakinan kami untuk terus mengevaluasi peluang pertumbuhan lanjutan di sektor PLTS, baik organik maupun anorganik, seiring makin matangnya ekosistem EBT di tanah air," kata Nicko. Sejumlah emiten di sektor energi telah terlebih dulu merambah ke bisnis PLTS. Salah satunya adalah emiten tambang batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), yang dilakukan melalui PT ITM Bhinneka Power dan PT Cahaya Power Indonesia. Direktur ITMG Yulius Kurniawan Gozali menyatakan bahwa pihaknya terus mencari peluang untuk mengembangkan bisnis PLTS, dan tak menutup kemungkinan untuk mengikuti tender dalam program 100 GWp. "Saat ini kami tetap mencari peluang-peluang yang ada di sektor PLTS. Untuk tender-tender yang dibuka, kami masih memantau kemungkinannya," kata Yulius kepada Kontan.co.id, Kamis (27/8/2026). Sementara itu, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) sedang memacu pengembangan bisnis BESS. Presiden Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso mengungkapkan bahwa DRMA terus mengembangkan portofolio BESS dengan menyesuaikan produk dan kapasitas terhadap kebutuhan pasar. Tak hanya untuk ekosistem kendaraan listrik, DRMA turut melirik peluang ekspansi bisnis BESS dari proyek PLTS. "Kami melihat prospek BESS untuk mendukung pemanfaatan energi surya sangat besar. Bagi kami, hal ini membuka peluang yang lebih luas bagi BESS untuk mendukung kebutuhan rumah tangga, perkantoran, maupun industri," kata Irianto.
Investasi Jumbo Butuh Pelibatan Swasta
Pemerintah telah resmi memulai Program PLTS 100 GWp melalui peluncuran dan groundbreaking di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026). Agenda tersebut terhubung secara hibrid dengan tiga proyek lain, yakni PLTS Terapung Gajah Mungkur di Jawa Tengah, PLTS Desa Sembur di Kepulauan Riau, dan PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan bahwa program PLTS 100 GWp membutuhan total investasi sekitar US$ 71,3 miliar atau setara dengan Rp 1.140 triliun. Meski membutuhkan investasi jumbo, tapi Bahlil mengklaim bahwa program PLTS 100 GWp berpotensi membawa penghematan sekitar Rp 73,9 triliun per tahun. Potensi penghematan ini menghitung penggunaan PLTS dan BESS dibandingkan dengan pemakaian listrik dari tenaga gas uap dan diesel. Sebagai tahap awal pelaksanaan program, pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.
Kebutuhan investasi untuk 14 proyek tahap awal mencapai sekitar US$ 7,7 miliar atau setara dengan Rp 135 triliun, dengan potensi penghematan sekitar Rp 4,6 triliun per tahun. Dari 14 proyek tersebut, enam proyek dinyatakan siap tender dengan total kapasitas 4,54 GWp. Bahlil mengatakan proyek PLTS dengan keekonomian atau harga yang kompetitif akan diprioritaskan untuk pengembang listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP). "Ini yang pertama adalah kita dorong IPP. Kalau harganya kompetitif, kita kasih IPP. Kalau tidak kompetitif dan tidak ada yang mau, maka kita akan ambil alih untuk dikerjakan oleh pemerintah lewat Danantara dengan pembiayaan yang efisien, efektif, dan terjangkau," tandas Bahlil.
Baca Juga: IESR Rekomendasikan Enam Langkah Prioritas untuk Mengejar Ambisi PLTS 100 GWp Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News