Artotel Group Andalkan Segmen Leisure untuk Dongkrak Bisnis Hotel Saat Nataru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan pengelola jaringan hotel, Artotel Group  bersiap mengoptimalkan momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027 untuk menopang pendapatan di tengah melemahnya permintaan dari segmen pemerintah dan korporasi.

Chief Operating Officer (COO) Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego mengatakan, Artotel perlu mengandalkan segmen leisure atau wisatawan yang bepergian untuk berlibur guna mengimbangi tekanan dari segmen bisnis lainnya.

“Kita mesti fight. Pokoknya kalau kita di hotel, kalau kita bilang nih bisnis korporasi dari government kan terengah-engah nih. Kita harus memanfaatkan bisnis leisure,” ujar Eduard saat ditemui di Sleman, Yogyakarta, pada Kamis (15/10) lalu. 


Baca Juga: Pasokan Gas RI Terbatas, Sektor Industri dan Kelistrikan Berebut Alokasi

Menurut dia, periode Nataru menjadi momentum penting bagi pelaku perhotelan untuk mengejar pendapatan yang belum optimal dari segmen lain sepanjang tahun ini. 

Karena itu, Artotel Group menyiapkan strategi untuk memaksimalkan permintaan selama periode liburan akhir tahun. 

Sejalan dengan strategi perusahaan untuk menangkap pertumbuhan di sisa tahun ini, Artotel Group juga baru saja memperluas jaringan hotelnya di wilayah Jawa Tengah melalui peluncuran Artotel Wanasaba di Wonosobo Jawa Tengah. 

Lewat hotel ini, perusahaan menyasar peluang pasar akomodasi seiring dengan perkembangan pariwisata dan kebutuhan fasilitas pertemuan di Wonosobo.

Selain itu, Artotel Group juga baru saja ditunjuk sebagai third-party operator (TPO) untuk mengelola dua hotel di Yogyakarta, yakni Ramada by Wyndham Yogyakarta dan Wyndham Garden Yogyakarta.

Eduard menilai, kebutuhan masyarakat untuk berlibur tetap menjadi peluang bagi industri perhotelan, terlepas dari kondisi ekonomi dan aktivitas di luar industri tersebut. 

“Tahun baru ini, mudah-mudahan nanti dengan cuti bersama dan tambahan WFH di hari jumatnya. Digabung-gabung semuanya sampai Januari, mudah-mudahan itu jadi puncak dari bisnis hotel,” ujarnya. 

Meski demikian, Artotel Group belum dapat memastikan perbandingan permintaan Nataru tahun ini dengan tahun lalu. Menurut Eduard, pola pemesanan hotel pada periode tersebut cenderung terjadi mendekati tanggal menginap atau last minute.

Dari sisi tarif, Artotel Group menargetkan kenaikan average room rate (ARR) atau rata-rata tarif kamar sekitar 5%-7% dibandingkan periode Nataru tahun lalu. Perusahaan memilih kenaikan tarif yang lebih terukur sembari berupaya memaksimalkan tingkat hunian.

Selain mengandalkan liburan akhir tahun, Artotel Group juga melihat peluang dari penyelenggaraan konser, pameran, dan acara berskala besar untuk mendukung bisnis hotel. 

Menurut Eduard, dampak acara tersebut tidak hanya terasa pada hari pelaksanaan, tetapi juga dari kebutuhan akomodasi tim persiapan dan kru yang datang lebih awal.

Eduard memperkirakan, acara besar dapat memberikan tambahan dampak sekitar 10% terhadap bisnis hotel, dengan periode pengaruh yang bisa berlangsung sekitar tujuh hari sebelum atau sesudah acara.

“Jadi impact dari satu konser tuh bukan cuma di satu hari itu saja. Belum nanti kru-nya dateng duluan. Kru-nya nyobongkar lagi. Exhibition-exhibition juga sama,” terangnya. 

Ke depan, Artotel Group berharap kombinasi libur panjang, peningkatan perjalanan wisata, serta penyelenggaraan berbagai acara dapat membantu mendorong kinerja bisnis perhotelan pada akhir tahun.

Baca Juga: Jaga Industri Keramik, Kemenperin Bakal Pastikan Pasokan Gas dan Perketat Impor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News