KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan aktivitas perdagangan melalui pelabuhan mulai membuka ruang pertumbuhan bagi bisnis logistik darat. Meningkatnya arus peti kemas dan barang nonpetikemas dinilai turut mendorong kebutuhan angkutan barang dari dan menuju kawasan pelabuhan. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) melihat peningkatan arus perdagangan melalui pelabuhan menjadi salah satu faktor yang menopang aktivitas angkutan darat. Moda transportasi tersebut masih menjadi bagian terbesar dalam distribusi barang di Indonesia.
Hingga Agustus 2026, arus peti kemas Pelindo Regional 2 tercatat naik sekitar 3,7% secara tahunan menjadi 6,48 juta TEUs. Sementara itu, arus barang nonpetikemas meningkat sekitar 10% menjadi 41,64 juta ton. Di Pelindo Regional 4, arus peti kemas juga mencatat pertumbuhan sekitar 3,9% menjadi 1,70 juta TEUs.
Baca Juga: Adopsi AI Melesat, Metrodata (MTDL) Genjot Bisnis Data dan AI Wakil Ketua Umum Bidang Kemaritiman dan Kepelabuhanan DPP ALFI Harry Sutanto mengatakan, kenaikan arus peti kemas dapat menjadi salah satu indikator pergerakan aktivitas ekonomi. Pasalnya, peti kemas banyak digunakan untuk mengangkut bahan baku, barang penolong, hasil industri, hingga barang konsumsi. “Container itu yang paling dekat sebagai proxy atau cerminan kegiatan ekonomi, karena itu adalah hasil industri. Impornya itu barang baku untuk industri, ekspornya itu adalah hasil industri,” kata Harry kepada Kontan, Kamis (1/10/2026). Menurut dia, peningkatan arus perdagangan melalui pelabuhan telah terlihat sejak awal tahun. Berdasarkan data yang dihimpun ALFI/ILFA, aktivitas ekspor dan impor juga menunjukkan tren pertumbuhan positif. Harry menyebut pertumbuhan ekspor hingga Agustus 2026 berada di kisaran 8,5%, sedangkan impor juga masih mencatat pertumbuhan. Meski demikian, dia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan gambaran secara agregat sehingga terdapat perbedaan pertumbuhan antarwilayah dan pelabuhan. “Secara umum impor-ekspor juga naiknya lebih tinggi. Di data yang Pelindo yang kita dapatkan juga rata-rata 8,5%, impor-ekspornya malah lebih tinggi, tapi jumlahnya lebih sedikit,” ujarnya.
Angkutan Darat Dominan
Peningkatan aktivitas perdagangan melalui pelabuhan tersebut turut memberikan dampak terhadap bisnis angkutan darat. Harry mengatakan, angkutan darat masih mendominasi komposisi angkutan barang di Indonesia.
Baca Juga: PMI Manufaktur Naik ke 52,4, Inaplas Waspadai Tekanan Harga Gas dan Impor “Angkutan itu kan ada angkutan darat, kereta api, pipa, udara. Kereta kecil-kecil, daratnya itu 92%. Jadi otomatis kalau kegiatannya naik berapa persen, kegiatan angkutan darat pasti naik proporsional,” jelasnya. Dengan dominasi tersebut, peningkatan arus barang dari dan menuju pelabuhan menjadi salah satu sumber aktivitas bagi pelaku trucking dan distribusi darat. Namun, Harry belum menyebutkan secara spesifik besaran kenaikan volume bisnis trucking. Selain dipengaruhi aktivitas perdagangan, bisnis logistik juga memiliki pola musiman. Aktivitas pengiriman barang cenderung meningkat menjelang periode hari besar dan akhir tahun karena pelaku usaha biasanya melakukan pemenuhan kebutuhan lebih awal untuk mengantisipasi periode libur. “Pada akhir tahun itu biasanya ada tahun baru. Itu untuk fulfillment, pemenuhan kontrak-kontrak itu biasanya dipenuhi sebelumnya, makanya ada lonjakan,” kata dia. Harry mengatakan, pola serupa juga terjadi menjelang hari besar keagamaan. Industri biasanya meningkatkan persediaan bahan maupun barang sebelum memasuki periode libur sehingga aktivitas logistik ikut meningkat.
Biaya Bahan Bakar Jadi Tantangan
Di tengah peluang pertumbuhan volume angkutan, pelaku bisnis logistik masih menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional. Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah volatilitas harga minyak yang berdampak terhadap biaya bahan bakar. Harry mengatakan, kenaikan biaya bahan bakar menjadi tantangan bagi perusahaan angkutan darat karena tidak seluruh pelaku usaha memiliki akses terhadap bahan bakar bersubsidi. Kondisi tersebut dapat menekan margin apabila kenaikan biaya tidak dapat diteruskan kepada pelanggan.
Baca Juga: Marak Tambang Ilegal, Perhapi Desak Pembentukan Badan Pengumpul Emas Rakyat “Kalau nggak, otomatis margin kita berkurang. Tapi kita kan nggak bisa, kalau kita naikin sementara yang lain tidak naikin, kita nggak dapat pasar. Itu tantangannya,” ujarnya. Untuk menjaga efisiensi, perusahaan logistik melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari mengoptimalkan rute hingga mengombinasikan sejumlah moda transportasi. Harry mencontohkan, pengiriman dengan jarak tertentu yang sebelumnya sepenuhnya menggunakan angkutan darat dapat dikombinasikan dengan moda kereta api. Namun, penerapan kombinasi moda tersebut tetap bergantung pada karakteristik barang dan rute yang dilayani.
“Yang jelas kita melakukan apa saja yang bisa melakukan efisiensi, termasuk efisiensi rute,” kata Harry. Ke depan, Harry melihat prospek bisnis logistik tetap berkaitan erat dengan perkembangan sektor perdagangan dan industri. Menurut dia, ketika aktivitas perdagangan dan industri meningkat, kebutuhan jasa logistik juga ikut bergerak karena barang membutuhkan transportasi dalam setiap tahapan rantai pasok. “Kalau ujungnya gerak, ini geraknya mulai lebih luas. Misalnya perdagangan atau industri itu tumbuh 5%, kita mesti lebih daripada itu. Karena seluruh rangkaian itu memerlukan logistik,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News