KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Adopsi Bitcoin di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya perhatian investor terhadap aset digital. Penguatan harga Bitcoin dalam sepekan terakhir, ikut mendorong aktivitas perdagangan aset kripto di dalam negeri. Berdasarkan data Coin Market Cap pada 24 September 2026 pukul 10.38 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran US$ 84.023. Dalam sepekan terakhir, BTC tercatat menguat sekitar 9,9% dan sempat menyentuh level US$ 87.363 pada 21 September 2026. Sejumlah laporan pasar mencatat penguatan Bitcoin dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, seiring meningkatnya arus modal dan aktivitas pasar. Di luar sentimen pasar secara umum, Bitcoin juga ditopang oleh aliran dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, serta efek lanjutan dari short squeeze yang terjadi pada 21–22 September 2026.
Minat terhadap ETF Bitcoin spot AS melonjak tajam. Berdasarkan data SoSoValue, produk ini membukukan inflow bersih sebesar US$ 998,95 juta pada 21 September 2026, angka harian tertinggi dalam kurun sekitar 11 bulan.
Baca Juga: Bitcoin dan Ether Naik Lebih dari 14% dalam Sepekan, Ini Prospeknya hingga Akhir 2026 Di saat bersamaan, CoinGlass mencatat likuidasi posisi kripto senilai sekitar US$ 1,06 miliar dalam 24 jam, dengan sekitar US$ 844 juta di antaranya berasal dari posisi short. Perpaduan arus dana ETF dan likuidasi posisi short ini memberi tenaga tambahan bagi kenaikan harga Bitcoin. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan kenaikan harga Bitcoin dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan perhatian masyarakat terhadap aset digital. Namun, pertumbuhan adopsi perlu diikuti pemahaman yang memadai mengenai karakteristik dan risiko aset kripto. Menurutnya, tingginya tingkat kepemilikan Bitcoin di Indonesia menunjukkan bahwa aset digital semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat dari berbagai kelompok. “Kenaikan harga tentu dapat meningkatkan awareness dan mendorong lebih banyak orang untuk melihat Bitcoin sebagai bagian dari aset digital. Namun, pertumbuhan adopsi yang sehat bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang membeli Bitcoin, melainkan juga dari seberapa baik investor memahami apa yang mereka miliki, bagaimana volatilitasnya, dan risiko yang menyertainya,” ujar Yudho dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026). Meningkatnya perhatian terhadap Bitcoin juga tercermin dari aktivitas perdagangan di platform aset kripto. Berdasarkan data internal FLOQ, volume transaksi di platform tersebut meningkat lebih dari 15% seiring dengan penguatan harga Bitcoin dalam sepekan terakhir. Kenaikan aktivitas transaksi menunjukkan bahwa momentum pasar masih menjadi salah satu faktor yang mendorong investor untuk kembali memantau dan berpartisipasi dalam perdagangan aset kripto.
Baca Juga: Bitcoin Dekati Level Tertinggi 8 Bulan, Inflow ETF Jadi Pendorong Yudho mengatakan peningkatan volume transaksi tersebut mencerminkan respons investor terhadap perubahan kondisi pasar, sekaligus menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin masih menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar aset digital di Indonesia. Ia melihat kenaikan volume transaksi lebih dari 10% seiring dengan penguatan Bitcoin. Ini menunjukkan bahwa ketika terjadi pergerakan harga yang signifikan, investor kembali meningkatkan perhatian dan aktivitasnya di pasar. "Bagi kami, momentum seperti ini perlu diimbangi dengan edukasi agar investor tidak hanya mengikuti pergerakan harga, tetapi juga memahami faktor yang mempengaruhi pasar dan risiko dari setiap keputusan transaksi,” jelas Yudho. Ke depan, pasar juga akan mencermati laporan arus dana ETF Bitcoin spot AS pada sesi perdagangan selanjutnya. Arus masuk yang konsisten dapat menjadi petunjuk bahwa minat institusional masih kuat setelah reli harga dalam beberapa hari terakhir.
Sebaliknya, jika arus keluar kembali muncul, hal itu bisa menjadi tanda melemahnya momentum permintaan. Sinyal ini sebaiknya dibaca bersamaan dengan pergerakan harga Bitcoin terhadap level support dan resistance utamanya. Menurut Yudho, investor sebaiknya tidak menjadikan kenaikan harga sebagai satu-satunya acuan dalam membaca kondisi pasar.
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 87.000, Arus Dana Institusional Jadi Penopang Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News