Arus Kapal Tanker Kembali Meningkat di Selat Hormuz, Harga Minyak Terkoreksi



KONTAN.CO.ID - Aktivitas pelayaran kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai meningkat pada Senin (22/6/2026), setelah sempat melemah sehari sebelumnya akibat kekhawatiran gangguan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Data pelacakan kapal menunjukkan, dua kapal tanker minyak mentah dengan total muatan hampir 2 juta barel melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Turun Senin (22/6): Brent ke US$79,11 & WTI ke US$76,84


Selain itu, dua supertanker juga tercatat memasuki Teluk melalui jalur yang sama, dengan salah satu kapal menuju pelabuhan Basra di Irak, menurut data Kpler.

Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah rata-rata harian sekitar 125 kapal sebelum konflik Iran kembali memanas pada 28 Februari.

Harga Minyak Terkoreksi

Di pasar global, harga minyak justru melemah seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan.

Harga minyak Brent turun US$1,46 atau 1,8% menjadi US$79,11 per barel pada pukul 11.27 GMT.

Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga US$82,30 per barel di awal perdagangan akibat kekhawatiran penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, 3 Warga Prancis Meninggal

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$76,84 per barel, naik tipis 24 sen menjelang kedaluwarsa kontrak. Namun, kontrak WTI untuk pengiriman Agustus yang lebih aktif justru turun 0,8% menjadi US$75,28 per barel.

Sinyal Negosiasi AS-Iran Redakan Pasar

Sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut telah ada kemajuan dalam perundingan dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah, yang selama beberapa pekan terakhir menjadi faktor utama penggerak harga energi global.

Tambahan tekanan datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menyebut Teheran memperoleh sejumlah konsesi, termasuk kelonggaran ekspor minyak dan petrokimia, pelepasan aset yang dibekukan, serta rencana rekonstruksi ekonomi Iran.

Baca Juga: Mantan Ketua The Fed Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, Iran telah kembali menyalurkan ekspor minyak yang sebelumnya sempat terganggu akibat blokade militer AS.

“Pelepasan barrel tersebut merupakan tambahan pasokan untuk pasar,” ujarnya.

Pemulihan Pasokan Masih Tidak Stabil

Di sisi lain, data menunjukkan lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah melewati jalur blokade dalam sepekan terakhir. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga meningkatkan ekspor minyak mereka.

Irak berencana memulihkan produksi secara bertahap hingga 4,2–4,3 juta barel per hari. Namun, pemulihan penuh masih dinilai penuh tantangan.

Baca Juga: AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Perdamaian, Targetkan Kesepakatan Final dalam 60 Hari

ANZ memperkirakan 2–3 juta barel per hari dapat kembali dalam empat minggu pertama, sementara pemulihan lanjutan sangat bergantung pada stabilitas kawasan. Sebagian kapasitas bahkan berpotensi hilang secara permanen atau semi permanen.

“Pemulihan awal akan didorong oleh logistik (pengiriman), bukan produksi. Pemulihan penuh tidak mungkin terjadi tahun ini,” tulis ANZ dalam catatannya.

Ketegangan Geopolitik Masih Membayangi

Meski arus pelayaran mulai pulih, risiko geopolitik di Timur Tengah masih tinggi. Serangan udara Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang, sehari setelah gencatan senjata dengan kelompok Hezbollah mulai berlaku.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global masih rentan terhadap eskalasi konflik yang dapat kembali mengganggu pasokan minyak dunia.