Arus Modal Keluar Tekan Rupiah, Intip Arah Aset Investasi Domestik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum menunjukkan sinyal mereda seiring berlanjutnya pelepasan aset domestik oleh pemodal asing.

Mengutip data Bloomberg pada Rabu (29/7/2026), rupiah di pasar spot menguat tipis 0,06% secara harian hingga ditutup pada level Rp 18.073 per dolar Amerika Serikat (AS).

Walaupun berhasil mencatatkan penguatan harian, posisi rupiah masih membayangi level terendahnya sepanjang sejarah di Rp 18.190 per dolar AS yang sempat tersentuh pada 8 Juni 2026.


Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai, gelombang capital outflow di pasar keuangan domestik secara langsung memperberat tekanan terhadap nilai tukar.

Baca Juga: Modal Asing Kabur dari Saham dan SRBI, Tekanan Kurs Rupiah Kian Berat

Pergerakan modal asing domestik per 22 Juli 2026 menunjukkan pasar saham dan SRBI masing-masing mencatatkan outflow sebesar Rp 2,0 triliun dan Rp 0,4 triliun (month-to-date/MtD).

Di sisi lain, pasar SBN masih mampu mencatatkan inflow sebesar Rp 1,9 triliun secara MtD.

Rizal mengamati bahwa masuknya dana asing di pasar SBN belum cukup kuat untuk menutupi tingginya permintaan valas akibat pelepasan saham dan SRBI.

Investor asing yang keluar dari instrumen ekuitas dan SRBI segera mengonversi dana simpanan mereka dari rupiah ke dolar AS.

Aksi jual tersebut tidak hanya mendongkrak permintaan valuta asing, tetapi juga mendorong kenaikan yield SBN di pasar sekunder.

Dampak ikutannya adalah penurunan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah di mata pemodal global.

Jika fenomena pelepasan aset berlanjut, perekonomian nasional berisiko terjebak dalam lingkaran negatif pasar keuangan.

Pelemahan nilai tukar akan mengikis imbal hasil riil investor dalam denominasi dolar AS, lalu memicu gelombang outflow lanjutan dari instrumen pasar modal.

Kondisi ketidakpastian pasar ini tecermin pula dari indikator risiko investasi nasional.

Saat ini, Credit Default Swap (CDS) Indonesia 10 tahun bergerak naik ke level 148,89 basis poin.

Kenaikan CDS tersebut mengindikasikan bahwa persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia sedang mengalami peningkatan cukup signifikan.

"Pasar sedang meminta kompensasi lebih tinggi karena ketidakpastian transisi kepemimpinan BI, arah kebijakan moneter, tekanan fiskal, dan eskalasi geopolitik," kata Rizal kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Kenaikan CDS mengonfirmasi bahwa pelaku pasar bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan modalnya.

Rizal menekankan pentingnya mencermati konsistensi kenaikan CDS yang diiringi pelebaran imbal hasil SBN dan kenaikan kebutuhan lindung nilai.

Menghadapi ketidakpastian arah kebijakan, para pemodal cenderung mengambil langkah proteksi modal dengan mengamankan likuiditas.

Investor terlihat mulai mengalihkan kepemilikan portofolio mereka ke instrumen obligasi bertenor pendek.

Langkah beralih ke tenor pendek dipandang sebagai kalkulasi defensif untuk meminimalkan risiko harga dan durasi investasi.

"Karena itu, pergeseran ke tenor pendek jangan dibaca sebagai pulihnya kepercayaan pasar, melainkan sebagai strategi parkir dana sementara dengan risiko yang lebih terukur," ungkap Rizal.

Pilihan ini memberi fleksibilitas bagi investor untuk menunggu kepastian arah kebijakan Bank Indonesia serta perkembangan kondisi geopolitik global.

Penguatan nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada efektivitas intervensi penstabilan nilai tukar oleh otoritas moneter.

Pemulihan kepercayaan investor asing menjadi kunci utama untuk meredam tekanan capital outflow dari instrumen investasi domestik.

Baca Juga: Ini Penjelasan Adhi Karya (ADHI) Soal Beda Arah Pendapatan dan Laba Semester I 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News